Chatib Basri: Nilai tukar fleksibel, korporasi rajin hedging, sistem keuangan lebih dewasa. Romantisme ketakutan krisis perlu diganti literasi risiko
LIDAHRAKYAT.COM – Di tengah BI Rate naik ke 5,50?n harga-harga bergerak naik, publik kembali waswas. Bayang-bayang krisis moneter 1998 sering muncul setiap kali rupiah tertekan. Ekonom senior Chatib Basri menegaskan: ekonomi Indonesia 2026 tidak sama dengan 1998. Struktur ekonomi sudah bertransformasi dan jauh lebih siap menghadapi tekanan pasar global.
“Publik tidak perlu terjebak dalam romantisme ketakutan masa lalu karena sistem keuangan nasional sudah jauh lebih dewasa,” kata mantan Menteri Keuangan itu.
1. Pembeda utama: nilai tukar fleksibel vs kurs tetap
Pondasi yang membedakan 1998 dan 2026 ada pada mekanisme nilai tukar. Tahun 1998, Indonesia masih menganut sistem kurs tetap terkendali. Ketika rupiah akhirnya dilepas dan anjlok, pasar panik karena belum terbiasa dengan fluktuasi.
2026, Indonesia sudah 20+ tahun menerapkan nilai tukar fleksibel atau floating exchange rate. Artinya rupiah naik-turun sesuai supply-demand pasar, bukan ditahan secara artifisial. Pelemahan rupiah sekarang jadi “katup pengaman” otomatis. Ekspor jadi lebih kompetitif, neraca berjalan cenderung membaik, dan tekanan ke cadangan devisa tidak sebrutal 1998.
2. Pelajaran 1998: mismatch valas yang melahirkan NPL
Chatib mengingatkan luka 1998 bukan hanya karena krisis regional, tapi karena “mismatch” di neraca korporasi dan perbankan. Banyak perusahaan pinjam dolar AS karena bunganya rendah, padahal pendapatan mereka rupiah. Saat rupiah dari Rp2.500/USD jatuh ke Rp17.000/USD, utang berlipat ganda dalam hitungan rupiah. Hasilnya: kredit macet atau Non-Performing Loan NPL meledak, bank kolaps.
3. 2026: korporasi dan kelas menengah sudah hedging
Luka 1998 membuat perilaku berubah. Pada 2026, kelompok menengah atas hingga korporasi besar sudah jauh lebih disiplin mengelola risiko valas. Dua kebiasaan baru yang jadi tameng:
1) Hedging/lindung nilai: Perusahaan yang punya utang atau pendapatan valas kini rutin memakai instrumen derivatif untuk mengunci kurs. Jadi saat rupiah melemah, dampak ke arus kas bisa ditekan.
2) Diversifikasi aset: Masyarakat kelas menengah atas dan korporasi lebih terbiasa menyimpan sebagian aset dalam valuta asing sebagai buffer. Ini mengurangi kepanikan saat rupiah terdepresiasi.Perbankan juga lebih prudent. BI dan OJK punya aturan ketat soal posisi devisa neto bank dan kualitas kredit. Rasio kecukupan modal CAR perbankan nasional berada di level aman jauh di atas minimum. Cadangan devisa juga jauh lebih tebal dibanding 1998.
4. Tapi bukan berarti tanpa risiko
Lebih tangguh bukan berarti kebal. Risiko 2026 berbeda karakter: bukan krisis nilai tukar sistemik seperti 1998, tapi risiko “daya beli tertekan”. BI Rate 5,50% + harga energi-pangan naik = beban cicilan dan biaya hidup naik. UMKM yang tidak punya akses hedging akan lebih sensitif. Defisit fiskal dan kualitas belanja negara tetap jadi ujian.
Chatib mengingatkan: literasi risiko lebih penting dari kepanikan. Masyarakat perlu paham bahwa fluktuasi rupiah itu normal di sistem fleksibel. Yang berbahaya adalah utang valas tanpa pendapatan valas, tanpa lindung nilai, dan tanpa rencana pembayaran.
Penutup: Dewasa menghadapi gejolak
1998 adalah krisis sistem. 2026 lebih tepat disebut “tekanan penyesuaian”. Fondasi makro lebih kuat: nilai tukar fleksibel, perbankan sehat, korporasi belajar hedging. Tugas kita sekarang: menjaga agar transformasi struktur ekonomi ini diterjemahkan ke perlindungan rakyat kecil. Subsidi tepat sasaran, pelatihan UMKM kelola risiko, dan pengawasan fiskal yang ketat.
Ekonomi Indonesia sudah dewasa. Saatnya publik juga dewasa: berhenti romantisme ketakutan 1998, mulai literasi risiko 2026.
*Disadur Oleh Tim Analisis Kebijakan Publik Untuk Pembangunan Berkelanjutan LidahRakyat.Com