Rabu, 11 Feb 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Lidah yang Terbakar Matahari & Jeritan Anak Palestina di Tenda Pengungsian
Kumpulan Puisi Leni Marlina
Penulis: Leni Marlina*
Style - 04 Dec 2024 - Views: 3.63K
image empty
Ilustrasi
Ilustrasi Leni Marlina (Padang) "Lidah yang Terbakar Matahari & Jeritan Anak Palestina di Tenda Pengungsian". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 321 by AI.

/1/
Lidah yang Terbakar Matahari

Lidahku terbakar matahari,
bukan oleh api, tapi oleh harapan yang tak terjamah.

Perut ini kosong, seperti laut yang menelan bintang,
tak ada gelombang yang datang untuk memberi makan.

Tapi aku tahu,
mungkin aku lebih kuat dari api,
karena aku menyala meskipun tidak ada api yang menghanguskan.

Kelaparan ini bagaikan rumah yang aku tinggali,
dan aku ibarat penghuni yang tidak pernah tidur—
menunggu uluran tangan yang yang belum kunjung datang,
nampaknya tak ada yang berdiri untuk kami,
kecuali tenda penuh sesak pengungsi.

Padang, Sumbar, 2022

/2/
Tanah yang Memuntahkan Air Mata


Tanah ini tidak lagi memberi hasil,
ia memuntahkan air mata yang tertimbun di dalamnya,
sungai-sungai yang dulu memberi kehidupan,
sekarang hanya aliran darah dan debu.

Aku menelan tanah itu,
seperti menelan dunia yang terluka,
dan tersedak pada  harapan yang hilang.

Di dalam perut ini, tanah itu tumbuh,
tapi ia tidak mengubah apapun—
ia hanya memakan tubuhku,
sampai aku menjadi tanah itu sendiri,
yang memimpikan datangnya sepotong roti.

Padang, Sumbar, 2022


/3/
Angin yang Mengunyah Perutku


Angin datang, tapi bukan membawa kesejukan,
ia mengunyah perutku,
memeras segala yang tersisa di dalam tubuh ini,
seperti gurun yang menelan segala yang hijau.

Aku berdiri diam,
seperti pohon yang tak punya akar,
dihembus angin yang tidak pernah datang untuk menumbuhkan.

Di dalam angin ini,
aku menemukan kebuntuan,
karena bahkan udara pun tak bisa meniupkan obat kelaparan,
aku menunggu makanan,
diantara bayang kematian di pengungsian.

Padang, Sumbar, 2022


/4/
Bulan di Tenda Pengungsian


Bulan itu menggantung rendah,
seperti jejak-jejak kelaparan yang tak bisa disembunyikan.

Aku melihatnya bukan sebagai cahaya,
tapi sebagai pelajaran yang mengajarkanku
bahwa malam ini, seperti malam sebelumnya,
tidak akan memberi makanan.

Bulan itu bagaikan api yang membakar ilusi—
ia menyinari kelaparan yang tak terlihat,
seperti bintang yang menghapus cahayanya sendiri,
agar dunia tahu bahwa tidak ada yang akan datang,
bahkan bulan pun tertutup oleh awan kelaparan ini.

Padang, Sumbar, 2023

/5/
Tangan yang Memungut Umpan dari Hujan Debu


Tangan ini tidak lagi menunggu roti,
tapi memungut umpan dari hujan debu yang jatuh.

Tetesannya menjadi air mata yang tak bisa ditahan,
membasahi kulit yang terluka,
membuat tubuh ini semakin tak terlihat.

Aku menadah hujan,
dan ia mengubah wajahku menjadi tanah,
hanya mengisi ruang kosong yang tak bisa dipenuhi.

Tapi aku tahu,
bahkan hujan pun terkadang terhenti—
membiarkan tubuhku mengering,
di bawah langit yang masih tak peduli.

Padang, Sumbar, 2023

/6/
Api yang Tidak Pernah Memasak


Aku menyalakan api di atas batu-batu pecah,
tapi ia tidak pernah memasak apa-apa.

Api itu hanyalah ilusi,
seperti janji-janji yang terbakar oleh waktu,
tanpa menghasilkan apapun selain asap yang menyiksa.

Aku menatap api,
dan api itu menatapku kembali,
seperti harapan yang dibakar untuk tidak tumbuh.

Api itu adalah angan yang tak bisa dimakan,
seperti mimpi yang dibakar tanpa bisa meninggalkan bekas.


Padang, Sumbar, 2023

/7/
Tetesan Air yang Menjadi Garam


Kau bertanya tentang air di pengungsian ini,
air itu datang,
tetapi bukan untuk menyegarkan,
melainkan untuk menjadi garam di luka.

Tetesan yang jatuh bukan menyejukkan,
tapi mengikis tubuh yang sudah kurus
seperti laut yang menggerus pantai.

Aku meneguk air itu,
dan ia menjadi pahit seperti kenangan yang hilang,
seperti segelas air yang aku tunggu-tunggu,
tapi akhirnya mengering dalam kehausan yang tidak pernah terpuaskan.

Tak usah pula kau tanya air yang keruh dan beracun, yang sudah menodai tenggorakanku bertahun-tahun.

Padang, Sumbar, 2024

/8/
Lautan Tanpa Ikan


Di Palestina,
laut itu ada,
tapi ia kosong,
seperti perutku yang menunggu sesuatu
yang tidak pernah datang.

Gelombang-gelombag itu terhempas ke pantai,
meninggalkan pasir yang kering dan tubuh yang lebih lemah.

Di tenda pengungsian ini,
aku mengingat laut yang kehilangan ikan,
seperti aku yang kehilangan makanan,
di mana lautan yang kaya telah menjadi kuburan,
untuk mereka yang lapar,
dan pantai dalam ingatanku,
menjadi tanah yang sudah mati,
dan tenda  tempat aku mengungsi,
sudah duluan mati.


Padang, Sumbar, 2024


/9/
Jari-jari yang Memetik Langit Kosong


Jari-jari ini, yang dulunya memetik buah dari pohon-pohon,
sekarang hanya menggapai langit kosong.

Di luar tenda lusuh,
aku seolah memetik bintang,
tapi mereka terjatuh sebelum bisa aku pegang.

Aku menatap langit,
tapi ia hanya menatap balik,
seperti wajah yang tersenyum untuk tidak memberi makan.

Langit itu bagai kaca yang tak pernah memantulkan kenyataan,
dan aku ibarat bayangan yang menghilang,
sebelum aku sempat menyentuh apapun.

Padang, Sumbar,  2022


/10/
Kepingan Roti yang Terbang Menjadi Debu


Di tenda pengungsian ini,
kepingan roti itu terbang,
tapi ia tidak jatuh ke tanah,
ia menjadi debu yang berterbangan,
seperti mimpi yang hilang di udara.

Aku mengejarnya,
dan debu itu mengelak,
seperti waktu yang menipu untuk berharap,
tanpa memberi sedikitpun.

Kepingan roti itu bagai janji kosong,
yang tidak pernah menjejakkan kaki di bumi,
mungkin menunggu aku jatuh pingsan  bersamanya.


Padang, Sumbar, 2022


*Biografi Singkat

Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun sebagai karya untuk  koleksi puisi pribadi tahun  2022. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kali oleh penulisnya melalui media digital tahun 2024.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria's Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Internasional POETRY-PEN; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.

Komentar (402)
Naufal Hanif Arsalan
31 Desember 2025, 16:23 WIB
Puisi ini menghadirkan metafora yang sangat kuat tentang kehancuran, kelaparan, dan keputusasaan. Tanah—yang biasanya menjadi simbol kesuburan dan kehidupan—dibalikkan maknanya menjadi sumber penderitaan. Sungai yang berubah menjadi “aliran darah dan debu” mempertegas gambaran krisis yang tidak hanya ekologis, tetapi juga kemanusiaan.<br /> <br /> Tindakan “menelan tanah” menjadi simbol ekstrem dari keterdesakan hidup, seolah tidak ada lagi yang bisa dikonsumsi selain luka itu sendiri. Bagian akhir puisi, ketika aku lirik perlahan menjadi tanah, menyiratkan hilangnya identitas dan daya hidup manusia akibat kondisi yang terus menekan.<br /> <br /> Penutup tentang “memimpikan sepotong roti” sangat sederhana namun menghantam emosi pembaca. Ia merangkum keseluruhan puisi dalam satu citra kecil yang penuh makna—harapan paling dasar manusia untuk bertahan hidup. Karya ini berhasil menyampaikan kritik sosial dan rasa pilu dengan bahasa yang puitis dan membekas.
Naufal Hanif Arsalan
31 Desember 2025, 16:20 WIB
Puisi ini menyuguhkan suasana kehilangan yang sangat kuat dan sunyi. Kontras antara masa lalu yang penuh kehidupan—memetik buah dari pohon—dengan masa kini yang kosong dan lapar membangun emosi keterasingan yang mendalam. Metafora langit dan bintang digunakan secara konsisten untuk menggambarkan harapan yang tampak dekat namun selalu gagal diraih.<br /> <br /> Penggambaran langit sebagai “wajah yang tersenyum untuk tidak memberi makan” menghadirkan kritik sosial yang halus namun tajam, seolah alam atau kehidupan bersikap acuh terhadap penderitaan manusia. Citra “bayangan yang menghilang” di akhir puisi memperkuat kesan rapuhnya eksistensi tokoh lirik.<br /> <br /> Secara keseluruhan, karya ini berhasil menyatukan kesederhanaan bahasa dengan kedalaman makna. Puisinya reflektif, melankolis, dan meninggalkan ruang tafsir yang luas bagi pembaca untuk merasakan sendiri kehampaan dan harapan yang pupus.<br />
Naufal Hanif Arsalan
31 Desember 2025, 16:18 WIB
Dari larik tersebut, saya terinspirasi untuk merancang sebuah restoran seafood dengan konsep bintang dan luar angkasa. Restoran ini mengusung gaya fine dining bertema cosmic ocean atau lautan kosmik. Suasana ruang didominasi warna gelap yang menyerupai langit malam, dipadukan dengan pencahayaan biru kehijauan untuk meniru efek bioluminesensi laut, serta proyeksi bintang dan galaksi di bagian langit-langit.<br /> <br /> Larik puisi ini menghadirkan paradoks yang mendalam: laut, yang biasanya memantulkan cahaya bintang, justru digambarkan menelannya. Hal ini menjadi metafora kuat tentang rasa lapar dan memudarnya harapan. Konsep restoran ini berupaya membalik makna tersebut—menghadirkan kembali “bintang-bintang” ke atas piring para tamu. Setiap hidangan dirancang sebagai karya seni, memadukan kesegaran seafood dari lautan dengan penyajian berkilau dan elegan yang menyerupai susunan konstelasi. Pengalaman bersantap yang ditawarkan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi menjadi perjalanan inderawi yang menyatukan keajaiban laut dan luasnya angkasa.
Syashikira
08 September 2025, 21:09 WIB
lidahku terbakar matahari <br /> ide usaha: dari larik ini saya terinspirasi untuk membuka sebuah kafe yang menjual berbagai minuman segar yang akan menghilangkan dahaga dengan tema atau nama segar membara. sebuah kafe dengan konsep out door yang menawarkan menu minuman segar dari berbagai olahan buah - buah han segar, nantinya usaha ini akan didirikan didaerah pantai agar mendapatkan nuansa indah pemandangan alam angin segar pantai. selain kesegaran dahaga sensasi segar buah dan suasana pemandangan pantai akan menjadi kombinasi yang pas selain melepas dahaga ini akan menjadi momen relaksasi menenangkan. Syashikira Syahrani Fauzyah (23018048) 25 JD EPR '23 SN 7-8 LM BD6 FBS
Nahdiatul Fadhyla
08 September 2025, 20:32 WIB
Larik yang dipilih (dari puisi /7/ Tetesan Air Yang Menjadi Garam) <br>“seperti segelas air yang aku tunggu-tunggu, tapi akhirnya mengering dalam kehausan yang tidak pernah terpuaskan.” <br> Makna larik : <br> Larik ini menggambarkan harapan yang ada namun tidak pernah terpenuhi. Air yang seharusnya menjadi pelepas dahaga justru mengering, meninggalkan rasa haus yang tak kunjung hilang. Sama halnya dengan kebutuhan manusia yang sebenarnya bisa terjawab, tetapi tidak mendapat solusi. Pesan tersembunyinya adalah tentang janji atau potensi yang ada, namun hilang sia-sia karena tidak dikelola atau dijaga dengan baik. <br> <br> Dari puisi tersebut, saya mendapatkan beberapa ide usaha seperti: <br>1. Usaha Air Minum Isi Ulang Berkelanjutan – menyediakan air minum sehat dengan sistem filtrasi modern dan ramah lingkungan, agar orang tidak lagi merasa “kehausan” walaupun air ada di sekitarnya. <br>2. Pertanian Hidroponik dengan Sistem Irigasi Hemat Air – mengembangkan tanaman dengan teknologi yang bisa mengoptimalkan air, sehingga tidak ada lagi potensi air yang “mengering sia-sia”. <br>3. Kafe atau Kedai Minuman Sehat – konsep usaha yang menghadirkan minuman alami, herbal, dan segar untuk memberikan kesegaran nyata, bukan sekadar janji. <br> Nahdiatul Fadhyla (23018030)<br> 25 JD EPR '23 SN 7-8 LM BD 6 FBS