LIDAHRAKYAT.COM - Di panggung RAT Paripurna XXII KSPPS BMT NU Jawa Timur, suasana mendadak berubah menjadi ruang perenungan yang khusyuk. Ketika D. Zawawi Imron, sang Penyair Nasional yang dikenal sebagai “Celurit Emas dari Tanah Garam Sumenep Madura”, melangkah ke depan, waktu seolah berhenti sejenak. Dengan suara bergetar namun penuh wibawa, ia kembali membacakan puisi “Satu Abad Nahdlatul Ulama” — puisi yang pernah ia lantunkan di hadapan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada peringatan satu abad NU di Sidoarjo tiga tahun silam.
Kini, di usia 83 tahun, ketika kebanyakan orang memilih diam dan beristirahat, D. Zawawi Imron justru menyalakan kembali api kata-kata. Ia tidak sekadar membaca puisi, tetapi menyalurkan ruh perjuangan, meneteskan makna dari setiap diksi yang lahir dari kedalaman batin. Suaranya yang bergetar bukan tanda kelemahan, melainkan gema spiritual yang menembus dinding-dinding hati para hadirin. Ruangan Graha Nuansa Gapura pun hening, seolah seluruh semesta menunduk mendengarkan.
Puisi itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang menjelma dalam bentuk estetika. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara sejarah dan harapan. Dalam setiap baitnya, tergambar perjalanan panjang Nahdlatul Ulama — dari pesantren-pesantren sunyi hingga gelanggang kebangsaan yang luas. D. Zawawi Imron, dengan tutur lembutnya, mengingatkan bahwa NU bukan hanya organisasi, melainkan denyut nadi peradaban yang menanamkan nilai-nilai rahmah, tawadhu’, dan cinta tanah air.
Kehadirannya di panggung RAT BMT NU Jawa Timur menjadi simbol keterhubungan antara budaya dan ekonomi, antara sastra dan syariah. Di tengah laporan keuangan dan penghargaan prestasi, puisi D. Zawawi Imron hadir sebagai nafas yang menghidupkan makna spiritual dari setiap angka dan data. Ia mengajarkan bahwa ekonomi umat tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaan, bahwa koperasi syariah bukan sekadar lembaga finansial, melainkan wadah pengabdian dan keberkahan.
Dalam perspektif ilmiah, momen ini menunjukkan bagaimana seni dan spiritualitas dapat menjadi instrumen penguatan nilai kelembagaan. Puisi D. Zawawi Imron berfungsi sebagai “cultural capital” — modal budaya yang memperkaya identitas kelembagaan BMT NU Jatim. Ia meneguhkan bahwa lembaga ekonomi berbasis nilai keislaman tidak hanya berdiri di atas prinsip efisiensi, tetapi juga pada fondasi etika dan estetika.Secara ilmiah, momen ini menunjukkan bagaimana seni dan spiritualitas dapat menjadi instrumen penguatan nilai kelembagaan. Puisi D. Zawawi Imron berfungsi sebagai cultural capital — modal budaya yang memperkaya identitas kelembagaan BMT NU Jatim. Ia menegaskan bahwa ekonomi syariah tidak hanya berbicara tentang angka dan laba, tetapi juga tentang nilai, etika, dan keindahan.
Dan ketika bait terakhir selesai, D. Zawawi Imron menutup dengan pantun yang sederhana namun menggugah tawa dan kagum:
“Untuk yang muda-muda saya ucapkan, pohon durian berbuah kedondong, cukup sekian dong.”
Seketika ruangan pecah oleh tepuk tangan riuh. Tawa dan haru berpadu menjadi satu. Di balik kelakar pantun itu, tersimpan pesan mendalam: bahwa generasi muda harus melanjutkan perjuangan dengan semangat, namun tetap dengan kerendahan hati dan keceriaan. Di usia senjanya, D. Zawawi Imron telah membuktikan bahwa kata-kata tidak pernah menua. Ia menulis dengan nafas, membaca dengan jiwa, dan meninggalkan jejak makna yang tak lekang oleh waktu.
Dari panggung RAT Paripurna XXII itu, lahirlah kesadaran baru: bahwa puisi dan ekonomi, spiritualitas dan profesionalitas, dapat berjalan seiring dalam satu langkah yang sama — langkah menuju keberkahan, sebagaimana pesan abadi dari Nahdlatul Ulama: menjaga tradisi, menebar manfaat, dan menyalakan cahaya di tengah zaman yang kian gelap. (Dewi Farah)
3.10K
141