Jumat, 29 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Menjelang Tahbisan Diakonat, 30 Frater di NTT Ikrar Sumpah Selibat di Seminari Tinggi Penfui
Persiapan Tahbisan Diakonat
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 29 May 2026 - Views: 223
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto/Koka Masan
Keterangan Foto : Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Kapel Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang, Jumat (29/5/2026), ketika 30 frater dari tiga keuskupan di Regio Nusa Tenggara Selatan secara resmi mengikrarkan Sumpah Selibat sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan diakonat. (Dok : G.I. // Facebook)

LIDAHRAKYAT.COM— KUPANG,— Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Kapel Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang, Jumat (29/5/2026), ketika 30 frater dari tiga keuskupan di Regio Nusa Tenggara Selatan secara resmi mengikrarkan Sumpah Selibat sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan diakonat.

Perayaan iman yang sarat makna ini menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan panggilan para calon imam Katolik sebelum mereka ditahbiskan sebagai diakon pada Sabtu, 30 Mei 2026. Hadir dalam perayaan tersebut para orang tua, keluarga, pembina seminari, imam, serta umat yang datang memberikan dukungan dan doa.

Ketiga keuskupan yang mengutus para frater yakni Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Weetabula. Dari total 30 frater, sebanyak 10 orang berasal dari Keuskupan Agung Kupang, 15 orang dari Keuskupan Atambua, dan 5 orang dari Keuskupan Weetabula.

Misa Sumpah Selibat dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Weetabula, P. Agustinus Malo Bulu. Dalam homilinya, ia menegaskan bahwa sumpah selibat bukan sekadar tradisi gerejawi, melainkan sebuah komitmen suci yang bersifat tetap dan mengikat seumur hidup.

Menurutnya, pilihan hidup selibat merupakan bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah dan Gereja. Karena itu, kehidupan doa, Ekaristi, dan Sabda Tuhan harus menjadi fondasi utama yang menopang panggilan serta kesetiaan para calon imam dalam menjalani pelayanan mereka di tengah umat.

“Selibat tidak dapat dijalani hanya dengan kekuatan manusiawi. Dibutuhkan kedalaman spiritualitas, kedekatan dengan Tuhan, serta kesetiaan dalam hidup doa agar panggilan ini tetap bertahan dan menghasilkan buah,” demikian penegasan dalam homili yang disampaikan di hadapan para frater dan umat yang memenuhi kapel seminari. Jumat (29/5/2026).

Perayaan berlangsung dalam nuansa liturgi yang sederhana namun penuh penghayatan. Satu per satu para frater menyatakan komitmen mereka di hadapan altar, sebuah momen yang menjadi simbol penyerahan hidup secara utuh demi pelayanan Gereja dan keselamatan umat.

Bagi keluarga para calon diakon, momen tersebut menjadi peristiwa yang membanggakan sekaligus mengharukan. Tidak sedikit orang tua yang tampak meneteskan air mata haru saat menyaksikan putra-putra mereka melangkah menuju tahapan akhir sebelum menerima tahbisan diakonat.

Sumpah selibat sendiri merupakan bagian integral dalam proses pembentukan calon imam Katolik sebelum diterima ke dalam golongan klerus. Melalui tahapan ini, Gereja menegaskan kesiapan para calon diakon untuk menghayati hidup murni demi Kerajaan Allah dan pelayanan pastoral.

Dengan penuh sukacita, umat dan para pembina seminari menyampaikan ucapan proficiat kepada seluruh frater yang akan menerima tahbisan diakon. Harapan dan doa mengiringi langkah mereka agar tetap setia dalam panggilan, serta senantiasa berada dalam perlindungan Santo Mikhael Malaikat Agung, pelindung Seminari Tinggi Penfui.

 

Editor : Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil