LIDAHRAKYAT.COM—REFLEKSI,— Di era digital, krisis terbesar manusia bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kehilangan keberanian untuk berhadapan dengan kebenaran. Kita hidup dalam banjir data, tetapi miskin keteguhan. Semua tersedia, tetapi tidak semua dihayati. Dalam ruang yang tampak terbuka, justru banyak orang memilih bersembunyi—bukan dari kebohongan, melainkan dari kebenaran yang menuntut.
Yesus pernah mengingatkan, “Janganlah gelisah hatimu.” Kalimat ini hari ini terasa seperti teguran halus terhadap zaman yang gelisah bukan karena tidak tahu, tetapi karena menolak untuk tahu secara utuh. Kegelisahan lahir ketika manusia terus-menerus berkompromi dengan setengah kebenaran.
Masalahnya bukan pada kurangnya akses terhadap fakta, tetapi pada kecenderungan untuk menyeleksi fakta sesuai kepentingan. Kebenaran diperlakukan seperti menu: dipilih, diambil sebagian, lalu ditinggalkan ketika tidak lagi sesuai selera. Dalam logika ini, kebenaran kehilangan sifatnya yang mengikat dan berubah menjadi sekadar preferensi.
Peran algoritma memperparah situasi ini. Ia tidak bekerja untuk membentuk manusia yang kritis, tetapi untuk mempertahankan perhatian. Yang diprioritaskan bukan yang benar, melainkan yang membuat kita bertahan lebih lama. Dari sini, realitas dipelintir perlahan—bukan dengan kebohongan besar, tetapi dengan pengulangan hal-hal yang ingin kita dengar.
Akibatnya, publik tidak lagi berdialog, melainkan saling mengukuhkan. Ruang digital berubah menjadi ruang konfirmasi, bukan ruang koreksi. Orang tidak lagi mencari kebenaran bersama, tetapi membangun kebenaran versinya sendiri. Ketika semua merasa benar, tidak ada lagi yang sungguh-sungguh mencari.
Di titik ini, mengabaikan yang benar bukan lagi tindakan pasif, melainkan sikap aktif yang terus dipelihara. Ia tampak dalam kebiasaan membagikan informasi tanpa tanggung jawab, dalam cepatnya vonis tanpa proses, dan dalam kegemaran menghancurkan tanpa keinginan memahami. Kebenaran tidak disangkal secara frontal—ia hanya dikesampingkan.
Dampaknya lebih dalam dari sekadar disinformasi. Ia merusak fondasi kepercayaan. Ketika orang tidak lagi yakin pada fakta, mereka juga kehilangan alasan untuk percaya pada sesama. Relasi sosial menjadi rapuh, institusi dipandang dengan curiga, dan ruang publik dipenuhi ketidakpastian.
Pada saat yang sama, manusia mengalami keterpecahan batin. Di satu sisi, ia tahu bahwa kebenaran itu ada; di sisi lain, ia memilih menjauh karena konsekuensinya tidak nyaman. Dari sinilah kegelisahan menemukan akarnya: bukan karena kebenaran tidak tersedia, tetapi karena ia dihindari.
Krisis ini juga menjalar ke dalam identitas. Manusia tidak lagi berdiri di atas siapa dirinya, tetapi pada bagaimana ia dilihat. Validasi eksternal menggantikan kejujuran internal. Ketika citra menjadi lebih penting daripada kebenaran, maka hidup kehilangan pusatnya.
Di sinilah pernyataan “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” menjadi sangat tajam. Ia bukan sekadar penghiburan, tetapi koreksi. Jalan menuntut arah yang jelas, kebenaran menuntut kesetiaan, dan hidup menuntut keutuhan. Ketiganya tidak dapat dinegosiasikan tanpa merusak maknanya.
Refleksi ini mengarah pada satu tuntutan yang tidak mudah: berhenti bermain-main dengan kebenaran. Itu berarti berani melambat di tengah budaya yang serba cepat, berani ragu di tengah arus yang meyakinkan, dan berani berbeda di tengah tekanan mayoritas. Kebenaran selalu menuntut harga—dan itulah yang sering dihindari.
Pada akhirnya, kegelisahan zaman ini bukan sekadar gejala sosial, melainkan cermin dari pilihan manusia. Selama kebenaran terus diabaikan, kegelisahan akan tetap diproduksi. Namun ketika manusia kembali memberi ruang bagi kebenaran untuk menuntun, di situlah ketenangan menjadi mungkin. Bukan karena dunia menjadi lebih sederhana, tetapi karena arah hidup kembali jelas.
3.22K
141