LIDAHRAKYAT.COM — Demi menjangkau pasien di pelosok, tim kesehatan di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, memilih cara tak biasa: menyeberangi sungai deras dengan bantuan excavator. Aksi itu dilakukan agar pelayanan kesehatan gratis tetap sampai ke Dusun Numbei, Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah, Senin.
Hujan membuat debit sungai naik. Kendaraan biasa tak bisa melintas. Tapi jadwal skrining Tuberkulosis TBC dan pemeriksaan kesehatan umum tak boleh ditunda. Tim yang terdiri dari dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, dan tenaga Puskesmas Betun akhirnya memutuskan menyeberang satu per satu bersama seluruh peralatan medis menggunakan excavator yang sudah disiapkan warga.
“Medan berat bukan alasan menghentikan pelayanan. Masyarakat terpencil punya hak yang sama untuk sehat,” kata Ketua Tim Peneliti “Intervensi Budaya untuk Meningkatkan Cakupan dan Keberhasilan Pengobatan TBC di Kabupaten Malaka”, Dr. Aemilianus Mau, S.Kep., Ns., M.Kep., di sela kegiatan.
Excavator Jadi Jembatan Darurat
Tenaga medis, tim mengangkut Portable X-Ray untuk skrining TBC, obat-obatan, perlengkapan pemeriksaan umum, dan media edukasi kesehatan. Semua harus aman sampai seberang. Satu per satu, petugas dan peralatan diangkut keranjang besi excavator, melintasi arus sungai yang keruh.
Perjuangan itu terbayar begitu tiba di Dusun Numbei. Warga sudah menunggu. Tanpa dipungut biaya, tim langsung membuka layanan: skrining TBC dengan X-Ray portable, cek kesehatan umum, konsultasi dokter, pembagian obat, hingga edukasi cara mencegah penularan TBC di rumah.
“Kami datang bawa fasilitas lengkap supaya warga tidak perlu keluar biaya. Manfaatkan kesempatan ini untuk cek kesehatan keluarga,” ajak anggota tim peneliti Poltekkes Kemenkes Kupang, Sabinus Kedang, S.Kep., Ns., M.Kep.
Apresiasi Warga: Ini Bukti Kepedulian Nyata
Kehadiran tim disambut hangat. Yohanes Nahak, mewakili warga Dusun Numbei, mengaku terharu.
“Kami sangat berterima kasih ke Poltekkes Kemenkes Kupang, Dinkes Malaka, dan Puskesmas Betun yang tetap datang melayani. Perjalanan sulit sampai harus naik excavator itu bukti kepedulian luar biasa untuk kesehatan kami,” ujarnya.
Kegiatan ini bagian dari penelitian intervensi budaya untuk menaikkan cakupan dan keberhasilan pengobatan TBC di Malaka. Lebih dari itu, aksi menyeberang sungai dengan excavator menjadi simbol: pelayanan kesehatan harus hadir untuk semua, tanpa terkecuali, sejauh apa pun lokasinya. Kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, puskesmas, kader, dan masyarakat di Malaka menunjukkan satu hal — ketika komitmen mengalahkan medan, akses kesehatan ke daerah 3T bukan lagi sekadar wacana.