Minggu, 14 Jun 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Petinju The Magic Baby, Heri Amol: Kisah Si Bayi Ajaib dari Insana yang Tak Pernah Menyerah
Petinju Profesional Indonesia.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Olahraga - 13 Jun 2026 - Views: 105
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto : Petinju Profesional Indonesia dengan Julukan "Si Bayi Ajaib", Heri Amol. (Dok : Istimewa)

LIDAHRAKYAT.COM — Nama Heri Amol tercatat sebagai salah satu petinju profesional Indonesia yang kisahnya melampaui angka kemenangan dan kekalahan. Petinju asal Desa Fatoin, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, itu dikenal luas dengan julukan “The Magic Baby” atau “Si Bayi Ajaib”.

Julukan itu lahir bukan tanpa sebab. Bertubuh kecil dengan gaya bertarung ortodoks di kelas terbang flyweight, Heri dikenal karena kecepatan, refleks tajam, serta kombinasi pukulan yang kerap mengejutkan lawan-lawan bertubuh lebih besar. Bagi dunia tinju, ia membuktikan bahwa ukuran postur bukan penentu. Mental, disiplin, dan keberanian yang jadi ukuran utama.

Perjalanan Heri tidak dimulai dari panggung megah. Dari lingkungan sederhana di Kupang, ia menempa diri lewat latihan keras hingga namanya menembus kancah nasional dan internasional. Sepanjang karier profesionalnya, Heri tercatat melakoni 72 pertandingan. Angka itu menjadi bukti pengabdiannya pada olahraga berisiko tinggi ini.

Laga 25 Desember 2007 yang Mengubah Segalanya

Momen paling emosional terjadi pada 25 Desember 2007 di Korea Selatan. Heri menghadapi petinju tuan rumah, Choi Yo-sam. Duel berlangsung sengit hingga ronde ke-12. Di ronde pamungkas, Heri sempat menjatuhkan Choi dengan pukulan keras. Choi bangkit dan laga selesai sampai bel terakhir. Juri kemudian memutuskan kemenangan angka untuk petinju tuan rumah.

Suatu suasana berubah duka beberapa saat setelah pertandingan. Choi Yo-sam kehilangan kesadaran di sudut ring dan dilarikan ke rumah sakit akibat pendarahan otak. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia. Tragedi itu mengguncang dunia tinju internasional dan menjadi pengingat bahwa tinju adalah olahraga dengan risiko nyata.Bagi Heri, peristiwa itu meninggalkan luka mendalam. Ia kehilangan lawan sekaligus sesama petarung yang berjuang mengejar mimpi yang sama. Masa sulit itu sempat mengguncang mentalnya. Namun Heri memilih bangkit. Ia kembali ke sasana sebagai bentuk penghormatan pada perjuangan hidupnya sebagai petinju.

Bangkit dan Jadi Simbol Petinju Timur

Tahun 2011, Heri membuktikan semangatnya belum padam. Ia meraih kemenangan lewat Technical Knockout atas petinju Filipina. Dua tahun kemudian, pada 2013, ia mendapat kepercayaan tampil dalam rangkaian laga yang melibatkan dua legenda tinju nasional, Chris John dan Daud Yordan.

Kini, nama Heri Amol tetap dikenang sebagai simbol perjuangan petinju dari Indonesia Timur. Kisahnya bukan hanya soal rekor 72 laga, kemenangan TKO, atau duel maut melawan Choi Yo-sam. Lebih dari itu, kisah Heri adalah tentang keberanian berdiri setiap kali jatuh.“The Magic Baby” dari Insana-TTU meninggalkan warisan: seorang petarung sejati tidak diukur dari gelar yang digenggam, melainkan dari tekad untuk terus maju meski hidup sekeras pukulan di atas ring.