Sabtu, 12 Sep 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Kosabangsa 2026 di Oenbit Dorong Inovasi Pewarna Alami dan Keripik Beras Merah
Program berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi kreatif berbasis potensi desa.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 12 Sep 2026 - Views: 219
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan foto: Tim Kosabangsa Universitas Timor bersama mitra dan masyarakat Desa Oenbit saat sosialisasi Program Kosabangsa 2026, Sabtu (12/9/2026), yang fokus mengembangkan pewarna alami untuk tenun dan keripik beras merah. (Doc : Koka Masan//Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — INSANA,— Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 kembali hadir di Desa Oenbit, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Program tersebut secara resmi disosialisasikan oleh Tim Kosabangsa Universitas Timor (Unimor) pada Sabtu, 12 September 2026.

Kosabangsa 2026 di Desa Oenbit merupakan program kolaboratif yang melibatkan Tim Universitas Timor bersama Universitas Mahasaraswati Denpasar, Pemerintah Desa Oenbit, Kelompok Tani Kartika Grup, serta Rumah Tenun LaTerre. Kolaborasi lintas lembaga tersebut diarahkan untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Program yang akan berlangsung hingga Desember 2026 ini memiliki dua sasaran produk utama, yakni bahan pewarna alami untuk mendukung produksi tenun khas Oenbit dan keripik berbahan dasar beras merah. Kedua produk tersebut diharapkan menjadi inovasi baru yang memperkuat ragam produk unggulan masyarakat Desa Oenbit.

Pengembangan pewarna alami menjadi bagian penting dalam program ini karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan industri tenun lokal. Pemanfaatan bahan-bahan alami diharapkan dapat memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus memperkuat karakter produk tenun khas Oenbit.

Sementara itu, pengolahan beras merah menjadi keripik diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat. Komoditas yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pasar lebih luas.

Kedua inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga diarahkan sebagai model penguatan ekonomi kreatif berbasis lingkungan. Petani dan pengrajin tenun didorong untuk tidak berhenti pada aktivitas produksi, melainkan mampu mengembangkan produk, meningkatkan kualitas, membangun kemasan, hingga memperluas pemasaran.

Produk-produk yang dihasilkan melalui program Kosabangsa 2026 nantinya diperuntukkan bagi masyarakat Desa Oenbit dan dikembangkan untuk dipasarkan ke berbagai wilayah. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan potensi desa secara berkelanjutan.

Pelaksanaan Kosabangsa di Oenbit tahun ini juga menjadi kelanjutan dari program yang telah dijalankan pada 2025. Pada tahun pertama, kegiatan lebih difokuskan pada pengembangan dan produksi berbagai jenis pupuk organik serta sayuran organik sebagai bagian dari upaya mendorong pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Memasuki tahun kedua, fokus program diperluas dari sektor pertanian organik menuju pengolahan hasil pertanian dan penguatan ekonomi kreatif. Perubahan fokus tersebut menunjukkan upaya membangun ekosistem usaha desa yang tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga mampu menciptakan produk jadi dengan nilai tambah.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku usaha tenun, Kosabangsa 2026 diharapkan menjadi ruang transfer pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Desa Oenbit tidak hanya diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra yang memiliki potensi lokal untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi berbasis lingkungan dan kreativitas masyarakat. (*)

 

Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil