Rabu, 29 Jul 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Janji Turnamen 17 Agustus Dipertanyakan, Masyarakat Insana Kecewa Sikap Kapolsek
Janji Dipertanyakan, Rakyat Kecewa.
Penulis: Redaksi Meja Lidah Rakyat
Peristiwa - 29 Jul 2026 - Views: 95
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto : Kapolsek Insana, IPDA Wilfridus Baga (Dokumentasi : Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — INSANA,— Kerinduan masyarakat Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) , untuk kembali menyaksikan turnamen sepak bola antardesa/kelurahan dalam menyongsong perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 terancam pupus. Harapan yang telah lama dinantikan itu kini terganjal persoalan izin dan waktu persiapan yang dinilai terlalu mepet.

Persoalan tersebut mencuat dalam pertemuan terakhir yang digelar di Kantor Kecamatan Insana, pada hari Senin, (27/7/2026). Dalam rapat yang dihadiri para kepala desa/kelurahan, rencana pelaksanaan pertandingan sepak bola antardesa/kelurahan mendapat penolakan. Salah satu alasan yang disampaikan adalah izin dari pihak kepolisian, khususnya Kapolsek Insana, yang dinilai diberikan terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan sehingga desa/kelurahan kesulitan mempersiapkan tim, termasuk menyediakan kostum pertandingan.

Bagi masyarakat Insana, sepak bola bukan sekadar pertandingan untuk memperebutkan kemenangan. Turnamen antardesa/kelurahan telah menjadi ruang perjumpaan, hiburan rakyat, sekaligus sarana mempererat persaudaraan. Karena itu, gagalnya agenda tersebut bukan hanya soal tidak adanya pertandingan, tetapi juga menyangkut harapan masyarakat yang selama lebih dari tiga tahun menantikan kembali bergulirnya kompetisi sepak bola di wilayah Insana.

Kekecewaan semakin menguat karena sebelumnya Kapolsek Insana, IPDA Wilfrudus Baga, disebut pernah memberikan harapan kepada masyarakat terkait kemungkinan digelarnya pertandingan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Turnamen Sepak Bola Mini Oelolok Cup I 2026 berlangsung pada hari Minggu, 7 Juni 2026.

Saat itu, berdasarkan keterangan masyarakat, Kapolsek Insana memberikan ultimatum bahwa apabila Turnamen Sepak Bola Mini Oelolok Cup I 2026 dapat berlangsung secara tertib, aman, dan lancar, maka pertandingan sepak bola dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 akan layak untuk diberikan izin. Pernyataan tersebut kemudian menjadi harapan baru bagi masyarakat yang sudah lama merindukan kompetisi sepak bola. Apa lagi Turnamen Sepak Bola Mini Oelolok Cup I 2026 berlangsung sampai pada pucak final dan tidak ada kendala apa pun dalam turnamen tersebut.

Namun, harapan itu kini dipertanyakan. Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menilai realitas yang terjadi saat ini berbeda dengan harapan yang pernah disampaikan. Menurutnya, masyarakat merasa kecewa karena janji yang mereka pahami dari pernyataan Kapolsek Insana tersebut seakan tidak berujung pada kepastian pelaksanaan turnamen.

“Kami merasa kecewa. Jangan hanya memberikan janji manis kepada masyarakat, tetapi pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang pernah disampaikan. Masyarakat sudah lama menunggu pertandingan seperti ini,” keluh warga tersebut. Rabu, (29/7/2026) malam.

Ia menilai masyarakat sebenarnya tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Warga hanya menginginkan adanya ruang olahraga dan hiburan bersama untuk menyemarakkan momentum kemerdekaan. Apalagi, setelah lebih dari tiga tahun tidak ada turnamen sepak bola antardesa/kelurahan di Insana, pertandingan 17 Agustus dinilai menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat olahraga dan persaudaraan masyarakat.

Di sisi lain, persoalan izin yang muncul menjelang pelaksanaan kegiatan membuat desa/kelurahan berada dalam posisi sulit. Persiapan sebuah turnamen membutuhkan waktu, mulai dari pembentukan tim, pencarian pemain, penyediaan kostum, hingga pengaturan teknis pertandingan. Karena itu, pemberian kepastian yang terlambat dinilai dapat membuat seluruh persiapan menjadi tidak maksimal.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: jika sejak awal pertandingan 17 Agustus sulit mendapatkan izin, mengapa harapan tersebut sempat diberikan ketika Turnamen Oelolok Cup I berlangsung? Pertanyaan itu kini menjadi bagian dari kegelisahan masyarakat Insana yang merasa telah menaruh kepercayaan pada pernyataan tersebut.

Masyarakat pun berharap persoalan ini tidak berhenti pada saling menyalahkan antara pemerintah desa/kelurahan, panitia, kepolisian, dan masyarakat. Mereka meminta adanya komunikasi terbuka dan kepastian yang jelas dari pihak berwenang. Jika pertandingan memang tidak dapat dilaksanakan karena pertimbangan keamanan dan ketertiban, masyarakat berharap alasan tersebut disampaikan secara terbuka. Sebaliknya, jika masih memungkinkan dilaksanakan, kepastian izin perlu diberikan sesegera mungkin agar desa/kelurahan memiliki waktu mempersiapkan tim.

Bagi masyarakat Insana, persoalan ini pada akhirnya bukan hanya tentang sepak bola. Ini menyangkut kepercayaan publik terhadap pernyataan dan keputusan seorang pejabat di tengah masyarakat. Harapan warga sederhana: ketika sebuah janji atau komitmen disampaikan di ruang publik, maka harus ada konsistensi antara ucapan dan tindakan. Sebab, ketika kepercayaan masyarakat mulai dipertanyakan, yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah turnamen, melainkan hubungan kepercayaan antara masyarakat dan aparat yang seharusnya hadir untuk melayani serta menjaga ketertiban. (*)