Jumat, 31 Jul 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Janji Tinggal Janji? Warga Insana Pertanyakan Konsistensi Kapolsek
Warga Tagih Konsistensi, Kepercayaan Dipertaruhkan
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 31 Jul 2026 - Views: 32
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto : Kapolsek Insana, IPDA Wilfridus Baga. (Dokumentasi : Koka Masan // Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — INSANA,— Gelombang kekecewaan terhadap batalnya rencana turnamen sepak bola dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terdengar dari sejumlah warga Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menilai harapan yang sempat muncul kini berubah menjadi tanda tanya besar.

Menurut beberapa warga, harapan itu lahir setelah Kapolsek Insana, IPDA Wilfrudus Baga, pernah menyampaikan di hadapan masyarakat saat Turnamen Sepak Mini Oelolok Cup I 2026 bahwa apabila kegiatan tersebut berlangsung aman, tertib, dan kondusif, maka turnamen sepak bola 17 Agustus layak untuk diberikan izin, ungkapnya pada hari Minggu, 7 Juni 2026 saat pembukaan turnamen sepak bola mini tersebut.

Namun, perkembangan yang terjadi belakangan dinilai berbeda dari ekspektasi masyarakat. Kepastian yang mereka tunggu tidak kunjung hadir, sementara waktu persiapan semakin sempit hingga rencana pertandingan akhirnya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa terhadap situasi tersebut. Menurutnya, ucapan seorang pejabat publik semestinya lahir dari pertimbangan yang matang sehingga tidak menimbulkan harapan yang pada akhirnya sulit diwujudkan.

"Kami merasa seperti diberi harapan, tetapi kenyataannya berbeda. Akibatnya, kepercayaan kami mulai berkurang. Kami berharap setiap pernyataan kepada masyarakat benar-benar dipastikan lebih dulu sebelum disampaikan," ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Ia mengatakan, setiap ucapan seorang pemimpin akan menjadi pegangan masyarakat. Karena itu, ketika pernyataan yang disampaikan tidak diikuti dengan kepastian atau penjelasan yang memadai, masyarakat berhak mempertanyakan konsistensi dari komitmen tersebut.

Menurutnya, persoalan ini bukan lagi sekadar soal ada atau tidaknya turnamen sepak bola. Yang lebih mendasar adalah menjaga kepercayaan publik. Sebab, kepercayaan yang sudah menurun jauh lebih sulit dipulihkan dari pada membangun harapan sejak awal.

Warga lainnya juga mengaku menyayangkan kondisi tersebut. Mereka berharap setiap penyampaian kepada masyarakat dilakukan secara hati-hati, berdasarkan kepastian, sehingga tidak menimbulkan ekspektasi yang kemudian berujung pada kekecewaan mendalam.

Mereka menilai komunikasi yang jelas merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Ketika masyarakat telah diberikan harapan di ruang publik, maka penjelasan yang terbuka juga menjadi tanggung jawab apabila rencana tersebut tidak dapat direalisasikan.

Di tengah polemik yang berkembang, warga berharap pihak Polsek Insana memberikan penjelasan resmi mengenai alasan belum terlaksananya turnamen. Penjelasan tersebut dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap pernyataan pejabat publik memiliki konsekuensi. Di mata masyarakat, ucapan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan komitmen moral yang akan diingat dan diukur melalui tindakan nyata.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi dari Kapolsek Insana terkait keluhan yang disampaikan sejumlah warga. Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari pihak yang bersangkutan sesuai dengan prinsip keberimbangan dalam pemberitaan. (*)

 

Editor : Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil