Selasa, 18 Aug 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Staf Khusus: Falent Kebo Dorong Investasi dan Inovasi, TTU Disiapkan Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Perbatasan
Pemerintah TTU membuka ruang investasi dan memperkuat ekonomi perbatasan melalui industri garam, perdagangan, peternakan modern, konektivitas udara, serta pembangunan fasilitas publik.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 18 Aug 2026 - Views: 78
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto: Staf Khusus Bupati TTU Bidang Hubungan Masyarakat dan Investasi, Elias Koa, saat menyampaikan pandangan terkait arah pembangunan dan investasi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (Dokumentasi : Lidah Rakyat)

LIDAHRAKYAT.COM — KEFAMENANU,— Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mendorong pembangunan daerah melalui kombinasi penguatan infrastruktur, pembukaan ruang investasi, pengembangan ekonomi perbatasan dan pemanfaatan potensi lokal. Langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Staf Khusus Bupati TTU Bidang Hubungan Masyarakat dan Investasi, Elias Koa, mengatakan arah pembangunan tersebut merupakan bagian dari komitmen Bupati Yoseph Falentinus Delasalle Kebo dan Wakil Bupati Kamilus Elu untuk mempercepat kemajuan daerah dengan melibatkan berbagai pihak.

Pernyataan itu disampaikan Elias seusai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati TTU, Senin (17/8/2026). Menurutnya, momentum kemerdekaan harus menjadi dorongan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menghadirkan pembangunan yang menghasilkan manfaat nyata.

Salah satu sektor yang kini mendapat perhatian adalah pengembangan industri garam di kawasan Pantai Utara TTU. Pemerintah daerah membuka ruang kerja sama dengan investor dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun.

“Selain pembangunan infrastruktur publik, Bupati Falent dan Wakil Bupati Kamilus juga membuka ruang bagi investor untuk mengelola potensi daerah. Salah satunya industri garam di wilayah Pantai Utara dengan nilai investasi sekitar Rp2 triliun,” kata Elias.

Menurut dia, masuknya investasi menjadi penting di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah. Kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha dinilai dapat mempercepat pengolahan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan aktivitas masyarakat.

Selain sektor garam, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan kawasan ekonomi perbatasan melalui aktivitas perdagangan di PLBN Napan. Kehadiran pasar tersebut diharapkan menjadi ruang baru bagi masyarakat perbatasan dan pelaku UMKM untuk memperluas kegiatan ekonomi.

“Pasar perbatasan di PLBN Napan kita harapkan menjadi gerbang ekonomi bagi masyarakat perbatasan, khususnya pelaku UMKM TTU,” ujar Elias.

Peluang investasi juga diarahkan pada sektor peternakan sapi. Pengembangan peternakan dengan pendekatan modern dinilai memiliki prospek besar karena TTU mempunyai potensi peternakan yang dapat dikembangkan secara lebih produktif dengan tetap melibatkan masyarakat lokal.

Di sisi lain, pembangunan fasilitas publik terus dilakukan untuk memperluas ruang interaksi masyarakat. Elias menyebut sejumlah fasilitas di sekitar kawasan Kantor Bupati TTU kini dimanfaatkan warga, termasuk masyarakat dari desa-desa yang datang ke Kota Kefamenanu.

“Banyak masyarakat dari desa-desa datang ke kawasan ini untuk berswafoto, menikmati suasana, sekaligus memanfaatkan Wi-Fi gratis. Ini menunjukkan fasilitas publik yang dibangun pemerintah dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat,” katanya.

Elias juga menyoroti rencana pembangunan Bandara Jack Ukat di Sasi sebagai gagasan strategis untuk memperkuat konektivitas TTU. Menurutnya, keberadaan bandara dapat membuka akses penerbangan dari dan menuju TTU, mengurangi keterisolasian wilayah serta menciptakan peluang ekonomi baru.

“Ini ide brilian Bupati Falent. Bandara Jack Ukat di Sasi ke depan dapat membuka isolasi penerbangan udara dari dan ke TTU serta menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kota Kefamenanu,” ujarnya.

Untuk mendukung pembangunan di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah daerah juga memanfaatkan skema kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menghadirkan fasilitas yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat tanpa sepenuhnya bergantung pada APBD.

Sementara itu, Bupati TTU Yoseph Falentinus Delasalle Kebo menegaskan efisiensi anggaran tidak boleh diterjemahkan sebagai penghentian pembangunan. Ia meminta seluruh perangkat daerah justru menjadikan keterbatasan fiskal sebagai momentum memperbaiki tata kelola, meningkatkan inovasi dan memastikan setiap rupiah anggaran memberikan manfaat maksimal.

“Efisiensi anggaran harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola keuangan dan mendorong lahirnya inovasi. Efisiensi bukanlah alasan untuk berhenti membangun,” tegas Bupati Falent.

Falent menilai tema HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur,” harus diwujudkan melalui kerja konkret pemerintah. Bagi TTU sebagai wilayah perbatasan Indonesia, pembangunan tidak hanya menyangkut pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penguatan sumber daya manusia, pelayanan publik, pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kita bertekad membangun TTU yang semakin maju, sejahtera, berdaya saing, serta mampu menghadirkan pelayanan publik yang berkeadilan untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa,” ujar Falent Kebo.

Dengan pengembangan industri garam, perdagangan perbatasan, peternakan modern, pembangunan konektivitas udara dan penguatan fasilitas publik, pemerintah daerah berharap TTU mampu membangun sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Kolaborasi pemerintah, masyarakat dan dunia usaha menjadi faktor penting agar berbagai potensi tersebut tidak berhenti sebagai rencana, tetapi benar-benar menghasilkan lapangan kerja, menggerakkan UMKM dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)

 

Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil