LIDAHRAKYAT.COM - Ada jabatan yang berakhir di atas kertas, tetapi pengabdiannya menetap lama di ruang ingatan. Pengawas sekolah adalah salah satunya. Ketika masa purna bakti tiba, yang dilepas bukan sekadar sebuah posisi, melainkan perjalanan panjang menjaga mutu, meneguhkan arah, dan merawat nurani pendidikan.
Selama bertahun-tahun, pengawas sekolah hadir bukan hanya sebagai pemeriksa administrasi atau penilai kinerja. Ia adalah penjaga mutu sekaligus penuntun etika profesional. Dengan langkah yang sering senyap namun sarat makna, pengawas masuk ke sekolah-sekolah, membaca denyut ruang kelas, mendengar keluh kesah guru, menguatkan kepala sekolah, serta memastikan kebijakan pendidikan benar-benar berpijak pada realitas pembelajaran.
Pengawas: Penjaga Api di Tengah Sistem
Di tengah perubahan kurikulum, dinamika kebijakan, dan tantangan zaman—mulai dari keterbatasan sarana hingga disrupsi teknologi—pengawas sekolah berdiri sebagai penyeimbang. Ia menjaga agar regulasi tidak kehilangan wajah kemanusiaannya, dan praktik pendidikan tidak tersesat dari tujuan dasarnya.
Pengawas yang baik tidak datang dengan sikap menghakimi, melainkan dengan mata yang memahami dan hati yang membimbing. Ia tahu kapan harus menegur dengan tegas, kapan mendampingi dengan sabar, dan kapan cukup hadir sebagai pendengar. Dari relasi inilah tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir perubahan yang berkelanjutan.
Purna Bakti Bukan Garis Akhir
Memasuki purna bakti bukan berarti berhenti memberi makna. Ia hanyalah jeda dari tugas struktural, bukan akhir dari panggilan batin. Pengetahuan, pengalaman, dan kearifan seorang pengawas sekolah justru menemukan ruang baru: sebagai penulis refleksi pendidikan, narasumber diskusi, pendamping informal, atau teladan hidup bagi generasi pendidik berikutnya.
Dalam budaya kita, mereka yang telah “cukup berjalan jauh” justru dimuliakan sebagai tempat bertanya dan berbagi hikmah. Demikian pula pengawas purna bakti—ia menjadi arsip hidup nilai-nilai pendidikan yang tak tercatat dalam buku panduan mana pun.
Warisan yang Tak Terukur Angka
Warisan seorang pengawas sekolah tidak selalu berupa laporan resmi atau angka evaluasi. Jejak pengabdian itu hidup dalam:
1. guru yang semakin percaya diri,
2. kepala sekolah yang kian bijaksana,
3. sekolah yang lebih manusiawi,
4. serta peserta didik yang merasakan iklim belajar yang bermartabat.
Capaian-capaian inilah yang tak bisa sepenuhnya diukur dengan grafik, tetapi nyata terasa dalam perjalanan waktu.
Salam Hormat untuk Sang Penjaga Mutu
Kepada para pengawas sekolah yang memasuki masa purna bakti, patut disampaikan hormat dan terima kasih. Terima kasih atas kesetiaan menapaki jalan sunyi pengabdian. Terima kasih karena telah menjaga api pendidikan agar tetap menyala, meski arah angin zaman kerap berubah.
Selamat melangkah ke babak baru kehidupan. Tugas boleh selesai, tetapi makna pengabdian akan terus hidup—mengalir, menginspirasi, dan mengajar, bahkan dalam diam.
3.10K
141