Minggu, 03 May 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Perang AS-Israel vs Iran Ancam Industri Asuransi RI, STMA Trisakti Gelar Seminar Antisipasi
Kerja Bersama Untuk Indonesia Maju
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Bisnis - 03 May 2026 - Views: 8
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto/mlu

LIDAHRAKYAT.COM – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar isu berita internasional. Bagi Indonesia, ini adalah variabel ekonomi nyata yang mengancam stabilitas industri perasuransian nasional.

Peringatan tersebut disampaikan Ketua STMA Trisakti, Dr. Antonius Anton Lie, S.E., M.M., dalam Seminar Nasional "Antisipasi Dampak Perang AS dan Israel vs Iran terhadap Stabilitas Pertumbuhan Industri Perasuransian" yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-42 STMA Trisakti, Rabu (29/4/2026) di Jakarta.

"Sebagai negara dengan ketergantungan pada stabilitas rantai pasok global dan fluktuasi harga energi, Indonesia berada pada titik di mana kewaspadaan adalah sebuah keharusan," tegas Dr. Antonius.

Dr. Antonius mencontohkan dampak langsung konflik tersebut: dua kapal minyak Pertamina saat ini masih terkendala di Selat Hormuz karena alasan administrasi. "Pemerintah saat ini melakukan intervensi supaya masyarakat bisa mendapatkan harga BBM yang terjangkau. Tapi yang jadi pertanyaan, mengapa dua kapal minyak Pertamina masih terkendala? Di sinilah asuransi harus mem-backup juga," jelasnya. Ia juga mengidentifikasi empat alasan mengapa konflik ini menjadi krusial bagi industri perasuransian Indonesia: Volatilitas Pasar Modal. Kenaikan Risiko Operasional. Risiko Penggantian Kerugian Akibat Perang. Daya Beli Masyarakat Menurun. Ketua Pengurus Yayasan Trisakti, Prof. Ainun Na'im, Ph.D., menegaskan bahwa situasi geopolitik saat ini telah mengganggu berbagai kegiatan ekonomi, bisnis, dan kehidupan masyarakat.

"Ini juga diikuti masalah rantai pasok karena transportasi terganggu, kemudian pemenuhan kebutuhan, khususnya energi lantas terganggu. Masalah asuransi yang berkaitan dengan ketidakpastian itu tidak dapat mencapai tujuannya karena ketidakpastiannya sangat tinggi," jelasnya.

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, SIP, ANZHF (Sar Assoc) CIP, CIIB, CRGG, menekankan pentingnya kolaborasi pendidikan dan industri dalam menghadapi tantangan ini.

"Kami selaku Dewan Asuransi berharap pelajaran dan pendidikan in line dengan kebutuhan industri perasuransian di Indonesia. Dalam mengantisipasi dampak perang ini, harus ada jaminan reasuransi dengan membangun kerja sama dari satu negara dengan negara lain," ujarnya.

Guru Besar Ilmu Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D., mengingatkan dampak konflik terhadap perilaku investor.

"Para investor banyak yang melakukan wait and see yang berdampak pada industri asuransi di Indonesia karena daya beli masyarakat menjadi turun dan bisa membuat performa unit link tidak akan baik," jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAUI), Budi Herawan, S.E., RMAC, QCRO, mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: kondisi geopolitik saat ini sangat merugikan industri perasuransian.

"Di sektor korporasi, hampir 15% sudah hengkang dari negeri ini. Jadi kita harus melakukan terobosan dan pemerintah harus hadir dalam situasi ekonomi yang tak menentu akibat perang ini," tegasnya.

Ia menyambut baik seminar ini sebagai bagian dari literasi yang bisa mendongkrak inklusi asuransi di tengah situasi yang tidak menentu. Turut hadir dalam seminar nasional ini Ketua Senat STMA Trisakti Robidi, S.H., M.H., QCRO, Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Kahirat, S.Si., MBA, ACII, FIIS, dan para tamu undangan lainnya.