Minggu, 15 Feb 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Operasi Keselamatan Jaya: Menjaga Jalanan Tetap Aman di Tengah Langit yang Muram
Kerja Bersama Untuk Indonesia Maju
Penulis: Dewi Farah*
Sorot - 14 Feb 2026 - Views: 14
image empty
Kepala Cabang Jasa Raharja Jakarta Barat, Syafaat Rahman, bersama timnya, Forum Komunikasi Lalu Lintas (FKLL) Jakarta Barat

LIDAHRAKYAT.COM Jakarta di bulan Februari selalu punya cerita. Langitnya sering murung, hujan turun tanpa aba-aba, dan jalanan berubah menjadi cermin yang memantulkan lampu-lampu kota. Di tengah cuaca yang tak menentu itu, keselamatan di jalan raya menjadi isu yang tak bisa ditunda. Karena di balik setiap genangan air dan kabut tipis, selalu ada potensi bahaya yang mengintai.

Forum Komunikasi Lalu Lintas (FKLL) Jakarta Barat yang digelar awal Februari 2026 menjadi ruang penting untuk menata langkah bersama. Di sana, para pemangku kepentingan—dari Dinas Perhubungan, Kepolisian, hingga Jasa Raharja—berkumpul bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk memastikan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas, bahkan ketika cuaca sedang tidak bersahabat.

Kehadiran Kepala Cabang Jasa Raharja Jakarta Barat, Syafaat Rahman, bersama timnya, menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas bukan hanya urusan aparat di lapangan, melainkan tanggung jawab kolektif. Dalam forum itu, dibahas sembilan sasaran pelanggaran prioritas yang menjadi fokus Operasi Keselamatan Jaya—mulai dari pelanggaran melawan arus, penggunaan helm non-SNI, hingga kebiasaan berbahaya seperti berkendara sambil bermain ponsel atau di bawah pengaruh alkohol.

Setiap poin pelanggaran itu bukan sekadar daftar kesalahan, melainkan cermin dari perilaku yang perlu dibenahi. Karena di jalan raya, satu kelalaian kecil bisa berujung pada kehilangan besar. Operasi Keselamatan Jaya hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan: bahwa keselamatan adalah hak sekaligus kewajiban setiap pengguna jalan.

Cuaca ekstrem yang melanda Jakarta menambah lapisan tantangan baru. Jalan licin, jarak pandang terbatas, dan genangan air menjadi ujian bagi kewaspadaan. Dalam kondisi seperti ini, koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Polisi, petugas perhubungan, dan Jasa Raharja harus bergerak seirama—seperti orkestra yang memainkan nada harmoni demi satu tujuan: menekan angka kecelakaan dan menjaga nyawa di jalanan ibu kota.

Forum ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya urusan teknis, tetapi juga moral. Ia lahir dari kesadaran, tumbuh dari disiplin, dan hidup dari empati. Ketika setiap pengendara memahami bahwa helm bukan sekadar pelindung kepala, tetapi penjaga kehidupan; ketika sabuk pengaman dianggap bukan beban, melainkan pelukan keselamatan—maka di situlah budaya tertib lalu lintas menemukan maknanya.

Harapan yang disampaikan Syafaat Rahman menggema di ruang forum itu: agar Operasi Keselamatan Jaya tak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi gerakan nyata yang menumbuhkan kepatuhan dan kepedulian. Karena menjaga keselamatan di jalan bukan sekadar tugas aparat, melainkan bentuk cinta kita pada kehidupan, dan di tengah langit Jakarta yang masih sering menitikkan hujan, semoga setiap tetesnya menjadi pengingat: bahwa keselamatan adalah cahaya yang harus terus dijaga, bahkan ketika cuaca sedang gelap sekalipun