LIDAHRAKYAT.COM Malam Nisfu Sya’ban adalah malam ketika langit seolah membuka tirainya, menampakkan cahaya rahmat yang menetes lembut ke bumi. Di antara desir angin malam dan bisikan doa yang lirih, hati yang berdebu oleh kesibukan dunia mulai mencari jalan pulang. Inilah malam yang disebut-sebut sebagai malam pengampunan, malam ketika Tuhan menatap makhluk-Nya dengan kasih yang tak bertepi.
Sya’ban, bulan yang berdiri di antara Rajab dan Ramadhan, sering kali terabaikan. Ditengah keterlupaan itu, ia menyimpan rahasia keindahan spiritual yang dalam. Malam Nisfu Sya’ban ibarat lentera yang menggantung di langit hati, mengingatkan manusia bahwa waktu terus berjalan, dan Ramadhan sudah di ambang pintu. Ia datang bukan sekadar untuk disambut dengan ritual, tetapi untuk diselami dengan kesadaran.
Di malam itu, doa menjadi bahasa yang paling jujur. Lidah bergetar, mata basah, dan dada terasa lapang oleh harapan. Setiap kalimat yang terucap seolah menembus langit, mengetuk pintu ampunan. Betapa indahnya malam ketika manusia kembali mengingat asalnya—bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju keabadian.
Nisfu Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriah, melainkan momentum untuk menata ulang hati. Ia mengajarkan bahwa sebelum menyambut Ramadhan dengan puasa, manusia perlu membersihkan jiwa dari dendam, iri, dan kesombongan. Malam ini adalah cermin: siapa yang menatapnya dengan jujur akan melihat wajah dirinya sendiri, lengkap dengan noda dan cahaya yang bersaing di dalamnya.
Di pesantren-pesantren, malam Nisfu Sya’ban menjadi simfoni doa. Santri-santri bersarung, duduk bersila di bawah temaram lampu minyak, melantunkan Yasin tiga kali dengan niat yang berbeda: panjang umur dalam ketaatan, dijauhkan dari bala, dan ditetapkan dalam iman. Suara mereka berpadu seperti ombak yang berulang, menenangkan sekaligus menggugah.
Malam Nisfu Sya’ban adalah undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Ia mengajak manusia menengadah, bukan sekadar melihat bintang, tetapi mencari cahaya di dalam diri. Sebab, siapa yang menyalakan lentera hatinya di malam ini, akan menemukan jalan terang menuju Ramadhan—bulan di mana cinta Ilahi turun tanpa batas. Maka, biarlah malam Nisfu Sya’ban menjadi taman bagi jiwa yang haus. Di sana, doa tumbuh seperti bunga, dan ampunan mekar seperti cahaya fajar. Dalam sunyi yang khusyuk, manusia belajar bahwa setiap malam bisa menjadi suci, asal hati bersedia kembali kepada-Nya.
Kami segenap managemen dari meja Redaksi Lidah Rakyat, Portal Berita Online, www.lidahrakyat.com mengucapkan selamat memasuki bulan penuh berkah ini untuk segenap sesama yang merayakan. (Red)
3.10K
141