LIDAHRAKYAT.COM Indonesia, negeri yang dijuluki zamrud khatulistiwa, tanah yang katanya diberkahi Tuhan dengan segala limpahan rahmat. Gunungnya menyimpan emas, lautnya menampung mutiara, hutan dan tanahnya menumbuhkan kehidupan. Betapapun dibalik segala kemegahan itu, tersimpan ironi yang menyesakkan dada: di negeri yang katanya kaya raya, masih ada anak-anak yang harus menyerah pada hidup hanya karena tak mampu membeli pena dan buku.
Di Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang bocah berusia sepuluh tahun bernama YBR menutup hidupnya dengan cara yang tak seharusnya dilakukan oleh anak seusianya. Ia bukan korban perang, bukan pula korban bencana alam. Ia korban dari kemiskinan yang menahun, korban dari sistem yang gagal menyalurkan kesejahteraan ke pelosok negeri. Malam sebelum ia pergi, ia hanya meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena—dua benda sederhana yang bagi sebagian besar anak di kota hanyalah kebutuhan kecil, namun bagi YBR adalah kemewahan yang tak terjangkau.
Sang ibu, seorang perempuan tangguh yang menanggung lima anak seorang diri, hanya bisa menunduk dalam pilu. Ia tak punya apa-apa untuk diberikan, bahkan untuk sekadar memenuhi permintaan kecil anaknya. Di pondok sederhana tempat mereka tinggal, kemiskinan bukan sekadar keadaan, melainkan takdir yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam kisah berbagai media yang diviralkan sebelum YBR benar-benar pergi, ia sempat menulis sepucuk surat dengan tangannya yang mungil:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama Molo Ja'o Galo Mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama Jao Galo Mata Mae woe Rita Ne'e Gae Ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Surat itu bukan sekadar tulisan anak kecil. Ia adalah jeritan sunyi dari hati yang patah, dari jiwa yang lelah menunggu keajaiban di negeri yang katanya penuh berkah. Ia adalah cermin retak dari wajah kemerdekaan Indonesia—kemerdekaan yang ternyata belum sepenuhnya merdeka bagi mereka yang hidup di pinggiran.
Kisah YBR menampar nurani bangsa ini. Ia menelanjangi wajah asli politik kekuasaan nasional yang sering kali sibuk berdebat di ruang ber-AC, sementara di pelosok negeri, anak-anak masih berjuang melawan lapar dan putus asa. Ia menyingkap betapa timpangnya pembangunan, betapa jauhnya jarak antara janji dan kenyataan.
NTT bukan satu-satunya. Di banyak sudut negeri, ada ratusan, bahkan ribuan anak seperti YBR. Ada ratusan mama-mama yang masih menatap langit dengan mata basah, berharap ada keajaiban yang turun dari langit. Mereka hidup di tanah yang kaya, tapi miskin dalam perhatian. Mereka adalah wajah sejati Indonesia—wajah yang tak pernah muncul di baliho kampanye, wajah yang tak pernah disebut dalam pidato kemenangan.
Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar bebas dari penjajahan, tapi juga bebas dari kelaparan, kebodohan, dan keputusasaan. Apa arti kemerdekaan jika seorang anak harus mati karena pena? Apa arti pembangunan jika masih ada ibu yang tak mampu membeli buku untuk anaknya? Apa arti kekuasaan jika ia tak mampu meneteskan kasih pada rakyat kecil? Indonesia memang kaya, tapi kekayaan itu sering kali hanya berputar di lingkaran sempit kekuasaan. Lihat di ujung timur sana, di tanah yang gersang namun berhati lembut, anak-anak masih menatap masa depan dengan mata kosong. Mereka menunggu tangan negara yang seharusnya hadir, bukan hanya dalam janji, tapi dalam tindakan nyata.
Kisah YBR adalah potret nyata dari kemiskinan struktural—kemiskinan yang bukan lahir dari kemalasan, melainkan dari ketimpangan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menahun. Mereka yang miskin bukan karena tak mau berusaha, tapi karena akses terhadap sumber daya, pendidikan, dan kesehatan begitu timpang. Di negeri yang katanya menjunjung keadilan sosial, keadilan itu justru sering kali berhenti di bibir para penguasa. Bagi keluarga seperti YBR, pena dan buku bukan sekadar alat tulis, melainkan simbol harapan. Namun ketika harapan itu tak lagi bisa digapai, maka yang tersisa hanyalah keputusasaan. Memang di titik itulah, kemiskinan berhenti menjadi sekadar statistik—ia menjelma menjadi tragedi kemanusiaan.
Kisah ini adalah alarm keras bagi bangsa ini. Bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan, masih ada anak-anak yang terkubur bersama mimpinya. Bahwa di balik pidato tentang kemajuan, masih ada ibu-ibu yang menangis dalam diam. Bahwa di balik bendera merah putih yang berkibar gagah, masih ada rakyat yang hidup dalam gelap. Jangan main-main dengan mengelola negeri ini. Dibalik setiap kebijakan yang diabaikan, ada nyawa yang melayang. Dibalik setiap janji yang tak ditepati, ada air mata yang menetes. Indonesia yang kaya ini seharusnya menjadi rumah bagi kebahagiaan, bukan kuburan bagi harapan.
3.10K
141