LIDAHRAKYAT.COM- Masihkah kalian ingat dengan Ibu Lia, guru honorer dari Kiupukan yang pernah kita kenal sebagai lentera kecil di perbatasan—yang mengajar dengan hati di tengah segala keterbatasan?
Pertanyaan itu kembali muncul dalam benak saya ketika suatu hari saya berkunjung ke sekolah tempat ia mengabdi. Kunjungan sederhana, tanpa agenda resmi. Kami berbincang lepas, duduk apa adanya. Namun dari percakapan itulah, saya kembali menemukan makna tentang menjadi guru.
Di hadapan saya duduk sosok yang sama seperti yang pernah saya tulis dulu—sederhana, tenang, bersahaja. Namun kali ini ada cahaya yang berbeda di matanya. Dengan senyum yang tertahan oleh haru, ia bercerita bahwa ia telah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru. Kini namanya lengkap: Pascalia Naihely, S.Pd., Gr.
Saya terdiam sejenak.Bukan karena kaget, tetapi karena haru. Dengan suara pelan, ia mengungkapkan perasaannya.
“Saya sangat merasa senang. Ada berbagai perasaan yang tercampur dalam pencapaian yang saya gapai. Saya tidak menyangka bisa sampai pada titik ini dengan gelar yang sangat saya harapkan,” katanya.
Saya mendengarkan, dan saya tahu, kalimat itu lahir dari perjalanan yang tidak mudah. Sebagai guru honorer di perbatasan, saya paham betul bahwa jalan menuju titik ini bukan jalan yang rata. Dan benar saja, ia lalu bercerita tentang keraguan yang pernah ia rasakan.
“Ada berbagai tantangan dan rintangan. Terkadang saya merasa minder, apakah saya bisa sampai ke tahap itu,” tuturnya jujur.
Kalimat itu mengena. Karena rasa minder adalah bahasa sunyi yang sering dipahami para guru di pinggiran negeri. Namun Ibu Lia tidak membiarkan rasa itu berkuasa. Ia memilih bertahan, melangkah pelan, dan terus percaya.
Ia menatap saya sejenak, lalu berkata dengan keyakinan yang tenang:
“Puji Tuhan, saya sangat bisa. Semua ini tidak terlepas dari campur tangan Tuhan yang membuat saya bisa mendapatkan gelar ini.”
Di titik itu, saya tahu—ini bukan sekadar kisah akademik. Ini adalah kesaksian iman dan ketekunan.
Yang membuat saya semakin tersentuh, Ibu Lia tidak memandang gelar Guru Profesional sebagai puncak pencapaian pribadi. Ia justru berbicara tentang murid-muridnya, tentang tanggung jawab yang kini ia pikul dengan lebih sadar.
“Dengan gelar ini saya bisa mengembangkan potensi yang saya miliki untuk saya ajarkan dan akan saya terapkan kepada peserta didik saya di sekolah secara maksimal,” ujarnya mantap.
Saya mendengar itu, dan dalam hati saya berkata: inilah wajah guru yang sesungguhnya. Gelar tidak menjauhkannya dari kelas, justru semakin mendekatkannya pada tanggung jawab.
Di sela percakapan, ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya—kepada kepala sekolah yang memberi ruang dan kepercayaan, kepada rekan-rekan guru yang selalu menguatkan, dan kepada keluarga tercinta yang menjadi tempat ia kembali menata hati ketika lelah dan ragu datang bersamaan.
Ada satu bagian percakapan yang paling lama tinggal di ingatan saya. Dengan suara pelan dan penuh harap, ia menyampaikan keinginannya ke depan.
“Saya berharap, dengan pengakuan sebagai guru profesional ini, suatu saat saya juga bisa diberi kepercayaan untuk menjadi ASN. Bukan semata soal status, tetapi agar saya bisa terus mengabdi, belajar, dan melayani peserta didik dengan lebih baik dan penuh tanggung jawab.”
Saya tidak langsung menanggapi. Kadang, harapan yang tulus tidak membutuhkan banyak jawaban—cukup didengar dengan hormat.
Saat saya meninggalkan sekolah itu, saya membawa pulang lebih dari sekadar bahan tulisan. Saya membawa keyakinan bahwa lentera kecil itu benar-benar telah bertambah terang. Bukan cahaya yang menyilaukan, tetapi cahaya yang menghangatkan dan menuntun.
Dan melalui kisah ini, saya ingin mengatakan kepada siapa pun yang membacanya: di sudut-sudut negeri yang jauh dari pusat perhatian, masih ada guru-guru seperti Ibu Lia—yang setia, yang berjuang dalam sunyi, dan yang perlahan membuktikan bahwa mimpi, jika dijaga dengan hati, akan selalu menemukan jalannya. (Remi)
*Penulis Adalah Guru dan Penulis Artikel di Wilayah Perbatasan RI -RDTL*
3.10K
141