Sabtu, 13 Jun 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Heri Amol, Si Bayi Ajaib dari Timur yang Menulis Sejarah dan Air Mata di Ring Tinju Dunia!
Petinju Profesional Indonesia.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 13 Jun 2026 - Views: 93
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto : Petinju Profesional Indonesia dengan Julukan "Si Bayi Ajaib", Heri Amol. (Dok : Istimewa)

LIDAHRAKYAT.COM — NUSA TENGGARA TIMUR,— Nama Heri Amol menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan tinju profesional Indonesia. Petinju asal Desa Fatoin, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  itu dikenal dengan julukan “The Magic Baby” atau “Si Bayi Ajaib”, sebuah nama yang menggambarkan kecepatan, keberanian, dan kejutan yang sering ia hadirkan di atas ring.

Julukan tersebut bukan sekadar identitas, melainkan lahir dari perjalanan panjang seorang petarung bertubuh kecil yang mampu menghadapi lawan-lawan tangguh di dunia tinju profesional. Heri membuktikan bahwa seorang juara tidak hanya diukur dari postur tubuh, tetapi dari mental, disiplin, dan keberanian menghadapi tantangan.

Heri Amol berkarier di kelas terbang (flyweight), sebuah divisi yang dikenal membutuhkan kecepatan tinggi, refleks tajam, serta stamina luar biasa. Dengan gaya bertarung ortodoks, ia dikenal memiliki pergerakan cepat dan kombinasi pukulan yang menyulitkan lawan.

Perjalanan Heri menuju panggung besar tidak terjadi secara instan. Dari lingkungan sederhana di Kupang, ia meniti karier dengan latihan keras dan tekad kuat hingga akhirnya namanya dikenal dalam dunia tinju nasional dan internasional.

Sepanjang karier profesionalnya, Heri Amol tercatat menjalani 72 pertandingan. Jumlah tersebut menjadi bukti panjangnya perjalanan seorang petinju yang mengabdikan hidupnya untuk olahraga keras penuh risiko ini.

Salah satu momen terbesar dalam karier Heri terjadi pada 25 Desember 2007 saat ia menghadapi petinju Korea Selatan, Choi Yo-sam. Pertarungan yang berlangsung di Korea Selatan itu menjadi salah satu laga paling emosional dalam sejarah tinju yang melibatkan petinju Indonesia.

Dalam pertandingan tersebut, kedua petinju tampil penuh determinasi hingga memasuki ronde ke-12. Pada ronde terakhir, Heri berhasil melayangkan pukulan keras yang membuat Choi Yo-sam jatuh ke kanvas.

Namun, Choi mampu bangkit dan menyelesaikan pertandingan hingga bel terakhir berbunyi. Setelah laga selesai, juri memberikan kemenangan angka kepada petinju tuan rumah, Choi Yo-sam.

Beberapa saat kemudian, suasana berubah menjadi duka ketika Choi Yo-sam tiba-tiba kehilangan kesadaran di sudut ring. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami cedera serius berupa pendarahan otak.

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Choi Yo-sam akhirnya meninggal dunia. Peristiwa tragis itu mengguncang dunia tinju internasional dan menjadi pengingat bahwa olahraga ini memiliki risiko besar bagi para atletnya.

Bagi Heri Amol, tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam. Ia tidak hanya kehilangan seorang lawan, tetapi juga seorang sesama petarung yang sama-sama mengejar impian melalui olahraga tinju.

Meski melewati masa sulit, Heri memilih untuk tetap melanjutkan kariernya. Ia kembali berlatih dan bertanding sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan hidupnya sebagai seorang petinju profesional.

Pada tahun 2011, Heri kembali mencatat kemenangan melalui Technical Knockout (TKO) atas petinju Filipina. Prestasi itu menunjukkan bahwa semangatnya belum padam meski pernah melewati peristiwa berat dalam kariernya.

Pada tahun 2013, Heri Amol juga mendapat kepercayaan tampil dalam bagian penting dunia tinju Indonesia, yakni dalam rangkaian pertandingan yang melibatkan dua legenda nasional, Chris John dan Daud Yordan.

Kini, nama Heri Amol tetap dikenang sebagai simbol perjuangan petinju dari Indonesia Timur. Kisahnya bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan, tetapi tentang keberanian, pengorbanan, serta semangat manusia dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

“The Magic Baby” dari Insana-TTU telah meninggalkan warisan berharga bahwa seorang petarung sejati tidak hanya dinilai dari gelar yang diraih, tetapi dari keberanian untuk terus berdiri setiap kali jatuh.

 

Editor : Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil