LIDAHRAKYAT.COM - Sebuah pertanyaan sederhana dari seorang anak muda dalam pertemuan keluarga mendadak berubah menjadi cermin peradaban:
"Bagaimana dulu kalian hidup tanpa teknologi?"
Tanpa televisi, tanpa internet, tanpa ponsel pintar, tanpa media sosial—tanpa dunia digital yang hari ini hampir menjadi ruang hidup utama manusia modern.
Pertanyaan ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah undangan refleksi: apakah kemajuan teknologi selalu berjalan seiring dengan kemajuan kemanusiaan?
Jawaban sang kakek, yang menyinggung hilangnya doa, rasa hormat, tanggung jawab, dan kedalaman batin, bukanlah ratapan masa lalu. Ia adalah kritik kebudayaan—suara kebijaksanaan yang patut didengar di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tetapi kerap kehilangan arah.
Generasi sebagai Pengalaman Sejarah
Sosiolog Karl Mannheim dalam esainya The Problem of Generations menegaskan bahwa generasi tidak dibentuk semata oleh usia biologis, melainkan oleh pengalaman sejarah bersama yang membentuk cara pandang, nilai, dan sikap hidup.
Generasi yang lahir antara 1920 hingga 1975 tumbuh dalam dunia dengan ritme lebih lambat, relasi sosial yang erat, serta proses pewarisan nilai yang berlangsung melalui keteladanan dan kebersamaan. Mereka hidup dalam masyarakat yang, meminjam istilah Margaret Mead, bersifat postfigurative—di mana anak belajar dari orang tua, dan kebijaksanaan mengalir dari yang tua kepada yang muda.
Hari ini, pola itu mengalami pembalikan. Anak sering kali lebih cepat menguasai teknologi daripada orang tua. Namun, sebagaimana diingatkan Mead, ketika arus pewarisan nilai terputus, masyarakat berisiko kehilangan fondasi moralnya.
Literasi Digital: Lebih dari Sekadar Keterampilan Teknis
UNESCO mendefinisikan literasi digital bukan hanya sebagai kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga sebagai kecakapan mengevaluasi informasi, berpikir kritis, bertindak etis, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Di titik inilah kritik sang kakek menemukan relevansinya. Dunia hari ini dipenuhi informasi, tetapi sering miskin kebijaksanaan. Media sosial menghubungkan banyak orang, namun tidak selalu menghadirkan kedalaman relasi.
Filsuf Kanada Marshall McLuhan pernah mengingatkan:
“We shape our tools, and thereafter our tools shape us.”
(Kita membentuk alat, lalu alat itu membentuk kita.)
Tanpa fondasi karakter, teknologi dapat membentuk manusia yang reaktif, dangkal, dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Kegelisahan generasi senior sejatinya bukan pada teknologinya, melainkan pada hilangnya kendali batin manusia atas teknologi.
Pendidikan Karakter: Keteladanan yang Hidup
Jauh sebelum istilah pendidikan karakter menjadi jargon kebijakan, generasi terdahulu telah menghidupinya dalam praktik sehari-hari. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan kesadaran dan kemanusiaan.
Nilai-nilai seperti disiplin, hormat, kerja keras, dan tanggung jawab tumbuh dari contoh nyata: dari cara orang tua berbicara, bekerja, berdoa, dan memperlakukan sesama. Pendidikan sejati terjadi dalam relasi, bukan hanya dalam ruang kelas.
Dalam konteks Indonesia, Ki Hadjar Dewantara menegaskan:
“Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.”
Tuntunan itu tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi menyentuh dimensi budi pekerti—dimensi yang kini sering terpinggirkan oleh obsesi terhadap capaian teknologi dan prestasi instan.
Budaya Timor: Akar Karakter yang Teruji Zaman
Dalam budaya Timor, manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia terikat pada keluarga besar, suku, alam, dan leluhur. Tradisi duduk melingkar, mendengar nasihat tetua, menjaga kata dan janji, serta menghormati kehidupan adalah ruang pembentukan karakter yang hidup.
Antropolog Clifford Geertz menyebut kebudayaan sebagai “webs of significance”—jaringan makna yang memberi arah pada kehidupan manusia. Ketika jaringan ini terputus oleh individualisme digital, manusia berisiko kehilangan orientasi eksistensialnya.
Budaya Timor mengajarkan keseimbangan: antara berbicara dan mendengar, antara mengambil dan memberi, antara kemajuan dan kebijaksanaan. Nilai ini sejalan dengan gagasan filsuf Martin Heidegger yang mengingatkan bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai tuan atas manusia.
Generasi Penyintas dan Penjaga Ingatan
Generasi yang lahir di era analog dan menua di era digital layak disebut generasi penyintas. Mereka menyaksikan pergantian abad, dua milenium, krisis global, pandemi, serta revolusi teknologi yang berlangsung nyaris tanpa jeda.
Namun kesaksian terpenting mereka bukan tentang perubahan alat, melainkan tentang ketahanan nilai. Mereka mengingatkan, seperti kata Hannah Arendt:
“Education is where we decide whether we love the world enough to assume responsibility for it.”
Mendidik generasi digital berarti mengambil tanggung jawab atas masa depan dunia, bukan sekadar mencetak manusia yang cakap teknologi, tetapi miskin nurani.
Opini: Menjembatani Generasi, Menyelamatkan Kemanusiaan
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan masa lalu dan masa kini, generasi tua dan muda, analog dan digital. Justru sebaliknya: masa depan hanya mungkin dibangun jika keduanya saling belajar.
Generasi muda membawa energi, kreativitas, dan kecepatan.
Generasi senior membawa kebijaksanaan, kedalaman, dan arah moral.
Jika teknologi dipandu oleh nilai, maka kemajuan akan menjadi berkah. Jika tidak, ia akan menjadi paradoks: dunia semakin terhubung, tetapi manusia semakin terasing.
Generasi yang “menyaksikan segalanya” memang edisi terbatas. Mereka adalah jembatan peradaban—penjaga ingatan, penutur nilai, dan saksi bahwa manusia sejatinya lebih besar daripada teknologi yang ia ciptakan.
Penutup
Teknologi akan terus berubah.
Platform akan datang dan pergi.
Namun karakter, nilai, dan kebijaksanaan hidup harus terus diwariskan melalui keluarga, budaya, pendidikan, dan teladan nyata.
Belajarlah dari masa lalu bukan untuk kembali ke sana, tetapi untuk melangkah ke masa depan dengan akar yang kuat dan nurani yang hidup. Selamanya bersama, selamanya bersatu, selamanya seperti saudara, selamanya menjadi sahabat, dalam perjalanan panjang kemanusiaan.
Penulis: Yohanes Nahak Taromi, purna bakti ASN, pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Aktif menulis di media dan buku dengan karya-karya yang bernuansa edukatif dan reflektif budaya
3.10K
141