LIDAHRAKYAT.COM - Di bawah langit Pamekasan yang biru, di antara desir angin yang membawa aroma garam dan doa, lahirlah sebuah gerakan yang bukan sekadar ajakan, melainkan seruan jiwa: BerSabDa — Bersih, Sehat, Bersepeda. Gerakan ini bukan hanya tentang mengayuh pedal, tetapi tentang mengayuh kesadaran; bukan sekadar membersihkan jalan, tetapi juga menyucikan pandangan manusia terhadap bumi yang menua.
KH. Kholilurrahman, Bupati Pamekasan, menanamkan nilai-nilai ekologis dalam setiap kayuhan roda. Ia seolah berpesan bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu. Dalam setiap langkah dan kayuhan, terselip filosofi bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas jasmani, tetapi juga ibadah rohani. Alam adalah kitab terbuka, dan manusia adalah pembacanya. Maka, BerSabDa menjadi tafsir ekologis atas ayat-ayat semesta.
Gerakan ini mengajarkan bahwa kebersihan bukan sekadar tampilan luar, melainkan cermin batin masyarakat. Ketika tangan-tangan warga membersihkan jalan, sesungguhnya mereka sedang membersihkan hati dari debu keserakahan. Ketika roda sepeda berputar di jalanan desa, sesungguhnya mereka sedang memutar roda kesadaran ekologis. Di situlah harmoni antara manusia dan alam menemukan nadanya.
BerSabDa juga menanamkan nilai hidup sehat yang berpadu dengan kesederhanaan. Sepeda menjadi simbol keseimbangan — antara tubuh dan bumi, antara kebutuhan dan keserakahan. Dalam kayuhan yang teratur, tersimpan pesan tentang ritme kehidupan yang selaras dengan alam. Tidak ada polusi, tidak ada kebisingan mesin, hanya desiran angin yang menyapa lembut, seolah bumi tersenyum menerima kasih manusia.
Filosofi ekologis BerSabDa berakar pada nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Madura. Dalam pandangan spiritual, menjaga kebersihan adalah bagian dari iman, dan mencintai alam adalah bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Maka, gerakan ini bukan sekadar program pemerintah, melainkan gerakan moral yang menghidupkan kembali hubungan sakral antara manusia dan bumi.
Pamekasan, dengan julukan Gerbang Salam, menemukan maknanya yang sejati melalui BerSabDa. Salam bukan hanya sapaan, tetapi juga keseimbangan; bukan hanya kata, tetapi juga tindakan. Ketika masyarakat hidup bersih, sehat, dan ramah lingkungan, maka salam itu menjelma menjadi kenyataan — kedamaian yang tumbuh dari tanah, mengalir di udara, dan bersemi di hati.
BerSabDa adalah puisi ekologis yang ditulis dengan tindakan, bukan kata. Ia mengajarkan bahwa bumi tidak butuh pidato panjang, melainkan langkah nyata. Dalam setiap kayuhan sepeda, dalam setiap sapuan sapu di jalan, terselip doa agar bumi tetap lestari. Dan di sanalah, di antara debu yang terangkat dan daun yang berguguran, manusia belajar kembali menjadi bagian dari alam, bukan penguasanya.
Gerakan BerSabDa bukan sekadar program kebersihan, melainkan panggilan nurani. Ia mengingatkan bahwa menjaga bumi adalah menjaga diri sendiri. Sebab, ketika bumi tersenyum, manusia pun akan hidup dalam kesejahteraan yang hakiki — kesejahteraan yang tumbuh dari kesadaran, kesederhanaan, dan kasih sayang terhadap semesta.
*Dewi Farah | Redaktur Lidahrakyat.com dan Anggota Satupena Jawa Timu
3.10K
141