Sinopsis Kelas
Konsep khalifah dalam ekoteologi Islam berakar pada pandangan filosofis tentang posisi manusia dalam kosmos sebagai makhluk yang diberi amanah untuk mewakili kehendak Tuhan di bumi, bukan sebagai penguasa absolut atas alam.
Secara ontologis, manusia dipahami sebagai bagian integral dari tatanan ciptaan (al-kawn), yang seluruh elemennya tunduk pada hukum ilahi (sunnatullah). Ayat seperti QS. al-Baqarah [2]: 30 menegaskan bahwa kekhalifahan bukanlah mandat dominasi, melainkan mandat representasi dan tanggung jawab. Dalam perspektif filsafat Islam, khususnya yang dipengaruhi oleh kosmologi Ibn Arabi atau Mulla Shadra, manusia dilihat sebagai mikrokosmos yang merefleksikan makrokosmos, sehingga relasi manusia-alam bersifat partisipatif dan kooperatif, bukan eksploitatif. Dengan demikian, krisis ekologis modern dapat dibaca sebagai krisis spiritual dan epistemologis: manusia gagal memahami dirinya sebagai wakil Tuhan yang harus menjaga harmoni kosmik.
Secara teologis, konsep khalifah terikat erat dengan doktrin amanah (QS. al-Ahzab [33]: 72) yang menegaskan bahwa manusia menerima beban moral yang tidak sanggup dipikul oleh langit dan bumi. Amanah ini mencakup tanggung jawab etis terhadap seluruh ciptaan, karena dalam teologi Islam, alam bukanlah entitas netral, melainkan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kosmik) yang memanifestasikan sifat-sifat Tuhan. Oleh sebab itu, merusak alam berarti merusak medium teofani ilahi. Ekoteologi Islam memandang bahwa dosa ekologis (ecological sin) bukan hanya pelanggaran terhadap keseimbangan alam, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan (mithaq). Dalam kerangka ini, eksploitasi berlebihan, polusi, dan perusakan biodiversitas bukan sekadar masalah teknis, melainkan kegagalan iman dan ketundukan teologis.
Dalam implikasi etis-praktis, khalifah meniscayakan paradigma pengelolaan bumi berbasis maslahah, mizan (keseimbangan), dan rahmah (kasih sayang universal). Manusia dituntut mengembangkan pola relasi ekologis yang berkelanjutan (sustainability) sebagai perwujudan ibadah kosmik, di mana menjaga alam sama nilainya dengan menjaga kehidupan spiritual. Ekoteologi Islam dengan demikian menawarkan kritik mendasar terhadap antroposentrisme modern dan kapitalisme eksploitatif, serta mengusulkan teosentrisme ekologis: Tuhan sebagai pusat, alam sebagai manifestasi-Nya, dan manusia sebagai penjaga etis. Konsep khalifah bukanlah legitimasi kekuasaan atas alam, tetapi justru batas teologis terhadap keserakahan manusia, sekaligus fondasi normatif bagi etika lingkungan yang berakar pada iman, bukan semata pada rasionalitas instrumental.
EKOTEOLOGI ISLAM; "Manusia Sebagai Khalifah: Amanah atau Dominasi?"
Narasumber:
1. Dr. Budhy Munawar Rachman (Dosen STF Driyarkara/Direktur PCRP)
2. Dr. Muqowim (Dosen UIN Sunan Kalijaga)
Moderator:
Khoirotun Nisak, M.Fil (Ekologi Sosial Institute/PCRP
3.10K
141