Kamis, 27 Aug 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Bupati Falent Dorong Bahasa Dawan Diperkuat di Sekolah, Identitas Budaya TTU Jadi Sorotan
Bahasa Lokal, Identitas TTU.
Penulis: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil
Peristiwa - 27 Aug 2026 - Views: 75
image empty
dok.lidahrakyat.com/Koka Masan
Keterangan Foto: Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo saat menyampaikan arahan terkait penguatan bahasa Dawan (Uab Meto) di lingkungan sekolah, Kamis (27/8/2026). (Doc : Ist)

LIDAHRAKYAT.COM — KEFAMENANU,— Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP., M.A., mendorong agar bahasa Dawan atau Uab Meto mendapat ruang yang lebih kuat dalam dunia pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dorongan tersebut disampaikan Bupati TTU saat menghadiri kegiatan Penyerahan Bantuan Perlengkapan Peserta Didik bagi siswa SD dan SMP se-Kabupaten TTU yang berlangsung di Aula Bale Biinmafo, Kamis (27/8/2026).

Dalam sambutannya, Bupati menempatkan bahasa daerah sebagai salah satu bagian penting dari identitas masyarakat TTU. Menurut dia, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menyimpan nilai, sejarah, budaya dan karakter masyarakat yang menggunakannya.

Karena itu, pelestarian bahasa Dawan dinilai tidak dapat hanya diserahkan kepada keluarga atau komunitas adat. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat perlu mengambil bagian agar bahasa daerah tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.

Bupati Falent menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam proses pendidikan sehingga lingkungan sekolah dapat menjadi ruang yang efektif untuk memperkenalkan sekaligus membiasakan penggunaan bahasa daerah.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi generasi muda harus menjadi perhatian. Arus informasi yang semakin cepat membuat anak-anak semakin banyak bersentuhan dengan berbagai bahasa dan budaya dari luar daerah.

Dalam situasi tersebut, penguatan Uab Meto dipandang penting agar kemajuan zaman tidak membuat generasi muda TTU kehilangan hubungan dengan akar budayanya sendiri.

Bupati juga mengingatkan bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan dan keunggulan yang berbeda. Sekolah, kata Falent, perlu memberikan perhatian terhadap potensi yang dimiliki masing-masing anak, baik dalam bidang akademik maupun kemampuan lain yang berkembang dalam diri mereka.

“Kalau bidang tertentu siswa lebih pintar, tolong diperhatikan,” ujar Bupati TTU dalam sambutannya.

Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan menurut Bupati tidak semata-mata mengejar nilai akademik. Pendidikan juga harus mampu menemukan potensi, membangun karakter dan memperkuat identitas peserta didik sebagai bagian dari masyarakat TTU.

Penguatan bahasa Dawan juga mendapat perhatian khusus karena penyampaian tersebut berlangsung pada hari Kamis, ketika ASN Pemerintah Kabupaten TTU mengenakan pakaian adat dalam aktivitas kedinasan.

Bupati melihat penggunaan pakaian adat dan pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari satu semangat yang sama. Keduanya menjadi simbol sekaligus praktik nyata dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah perubahan zaman.

Untuk memperkuat langkah tersebut, Bupati meminta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU agar segera mendorong percepatan regulasi mengenai penggunaan bahasa Dawan di lingkungan sekolah.

“Ia meminta Kadis P dan K agar cepat menggenjot Perda penggunaan bahasa Dawan di tingkat sekolah,” demikian penegasan Bupati Falent.

Menurut Bupati, keberadaan regulasi diperlukan agar upaya pelestarian bahasa daerah mempunyai landasan yang jelas dan tidak berhenti sebatas imbauan maupun kegiatan seremonial.

Implementasinya pun diharapkan dilakukan secara terarah dengan mempertimbangkan kondisi sekolah, kemampuan tenaga pendidik serta karakteristik peserta didik. Dengan demikian, penggunaan Uab Meto dapat menjadi bagian dari proses pendidikan tanpa mengurangi penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Bupati berharap guru dan kepala sekolah dapat menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di lingkungan pendidikan. Orang tua juga diharapkan membangun kebiasaan berbahasa daerah di rumah sehingga pendidikan bahasa tidak hanya berlangsung di sekolah.

Menurutnya, pelestarian bahasa membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Bahasa akan tetap hidup apabila digunakan dalam komunikasi sehari-hari dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, masyarakat TTU juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan Uab Meto. Sekolah dapat memberikan penguatan dari sisi pendidikan, sementara keluarga dan lingkungan masyarakat menjadi ruang praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Bupati menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan identitas budayanya. Sebaliknya, pembangunan seharusnya berjalan bersama dengan upaya menjaga nilai-nilai lokal yang menjadi kekuatan masyarakat.

Bupati Falent berharap anak-anak TTU kelak mampu berkompetisi di tingkat nasional bahkan internasional, namun tetap mengetahui asal-usul, memahami budayanya dan bangga menggunakan bahasa daerah.

Penguatan bahasa Dawan di sekolah, dengan demikian, bukan sekadar persoalan penggunaan bahasa, melainkan bagian dari investasi kebudayaan untuk generasi mendatang. Pemerintah daerah berharap langkah tersebut dapat mempertemukan kemajuan pendidikan dengan keberlanjutan budaya lokal TTU. (*)

 

Editor: Oktovianus Arkyan Masan, S.Fil