Selasa, 17 Feb 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Ketergantungan Hidup Manusia dan Lingkungan Alamnya
Inspirasi Literasi Indonesia
Penulis: Agustinus Janor*
Analisis - 15 Feb 2026 - Views: 19
image empty
Foto, Istimewa Pribadi
Agustinus Janor, Pemerhati Pembangunan Pedesaan Pekerjaan "Dayadesa" Tinggal di Jakarta

80 Tahun Indonesia Merdeka dan Tantangan Lingkungan

Memasuki usia 80 tahun pasca kemerdekaan, Indonesia menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana menghayati dan mengisi kemerdekaan dalam konteks lingkungan hidup masa kini? Kemerdekaan bukan hanya soal politik dan ekonomi, tetapi juga kesanggupan menjaga keberlanjutan hidup manusia melalui pelestarian alam.

Kita dihadapkan pada sebuah peradaban modern yang kerap dibanggakan sebagai puncak kemajuan akal budi manusia. Namun realitas yang muncul justru mengandung ironi besar: kemajuan tersebut hadir bersamaan dengan tindakan “bunuh diri ekologis”. Atas nama pembangunan, manusia tanpa sadar merusak ekosfer, rumahnya sendiri.

Perubahan iklim, penipisan ozon, hujan asam, penggundulan hutan, gangguan daur air, naiknya permukaan laut, erosi, pencemaran kimia, hingga hilangnya keragaman hayati adalah bukti nyata kerusakan yang terus berlangsung. Meskipun manusia sadar bahwa bumi dapat menjadi tidak layak huni, dorongan untuk terus mengejar kemajuan ekonomi membuat kerusakan itu dibiarkan terjadi

Akar Masalah: Cara Pandang Modernisme.

Penyebab utama persoalan lingkungan terletak pada cara pandang modernisme. Paradigma ini didasarkan pada dua prinsip besar antara lain:


1. Bahwa kesejahteraan dan kemakmuran adalah hasil buatan manusia,produk teknologi, industri, dan pembangunan ekonomi.
2. Bahwa untuk memaksimalkan kesejahteraan, pembangunan ekonomi harus terus diperbesar tanpa batas.

Paradigma ini mengabaikan satu hal penting: daya dukung ekosfer. Ketika daya dukung alam terlampaui, dampaknya sangat parah dan sulit dipulihkan. Dengan demikian, seluruh persoalan lingkungan pada dasarnya adalah kegagalan manusia memahami keterbatasan dan dinamika lingkungan hidupnya.

Ambiguitas Manusia terhadap Alam.

Manusia bersikap ambivalen terhadap alam, pada satu sisi, alam dipandang indah, selaras, dan menjadi sumber inspirasi, pada sisi lain, alam dianggap musuh yang harus dikendalikan agar manusia dapat bertahan hidup. Dua cara pandang yang bertentangan ini membuat hubungan manusia dengan alam tidak pernah stabil. Akibatnya, tindakan manusia sering merusak sesuatu yang sebenarnya menjadi sumber hidupnya sendiri.

Menuju Perubahan Cara Pandang.

Kesadaran bahwa bumi harus dicintai memang mulai tumbuh. Ekosfer adalah sistem yang luas, tidak bertepi, dan kompleks, menjadikannya sulit dipahami secara utuh. Perubahan cara pandang dari modernisme menuju cara pandang ekologis menjadi sangat mendesak. Namun perubahan ini tidak cukup dilakukan secara individu. Diperlukan:

* edukasi lintas generasi,
* kebijakan publik yang mendukung keberlanjutan,
* budaya kolektif yang menghargai alam,
* serta keterlibatan aktif seluruh masyarakat.

Menghargai Para Penjaga Alam

Di tengah ancaman kerusakan yang besar, ada pribadi-pribadi dan komunitas yang bekerja tanpa henti menjaga lingkungan. Mereka pantas dihargai karena perjuangan mereka dinikmati oleh semua makhluk hidup, sering tanpa disadari. Para pejuang lingkungan adalah penyelamat kehidupan, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh ciptaan.

Pertanyaan pentingnya: Apakah kita telah termasuk dalam golongan yang ikut menjaga dan memulihkan lingkungan ini? Dua Pilihan Besar. Saat ini umat manusia hanya punya dua pilihan: 1) Menunggu tumbuhnya kedewasaan ekologis, sambil berjuang mengubah cara pandang dan perilaku. 2) Atau mencampakkan kesadaran ekologis dan mencari penghela pembangunan baru yang mungkin lebih merusak.

Pilihan pertama adalah jalan harapan. Pilihan kedua adalah jalan kehancuran. Masa depan bergantung pada pilihan yang kita ambil hari ini. Karena bertahan hidupnya manusia akan selalu bergantung pada kemampuan kita menjaga lingkungan alam sebagai rumah bersama.  Make the earth better place to live on for me, for you, for all of us.

 

*Penulis adalah Pemerhati Pembangunan Pedesaan Pekerjaan "Dayadesa" Tinggal di Jakarta