LIDAHRAKYAT.COM, Suasana berbeda terasa di Kapel Gembala Baik, kompleks Sekolahan Santa Maria, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (1/6/2026). Doa-doa yang biasanya dilantunkan dalam bahasa Indonesia, kali ini mengalir dalam Bahasa Leragere—bahasa ibu komunitas kecil dari Pulau Lembata yang kini hidup di tengah hiruk pikuk ibu kota.
Untuk pertama kalinya, komunitas warga Leragere di Jabodetabek menggelar Misa Inkulturasi dalam bahasa mereka sendiri. Perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pater Wilbrordus Andreas Bisa, OFM atau akrab disapa Pater Andre Bisa ini bukan sekadar ibadah, melainkan penanda penting kebangkitan kesadaran budaya di perantauan.
Sejak awal misa, nuansa keakraban begitu terasa. Sapaan pembuka, bacaan Kitab Suci, doa umat, hingga nyanyian liturgi dibawakan dalam Bahasa Leragere. Keluarga Leragere yang hadir tampak larut, sebagian tersenyum, sebagian lain tampak haru—seolah menemukan kembali sesuatu yang lama tersimpan.
Dalam homilinya, Pater Andre menegaskan bahwa inkulturasi bukan hanya soal menerjemahkan bahasa, tetapi menghadirkan iman dalam denyut kehidupan budaya umat.
“Kalau doa diucapkan dalam bahasa yang asing bagi hati, ia bisa menjadi hafalan. Tetapi kalau diucapkan dalam bahasa ibu, doa itu menjadi napas,” ujarnya.
Gagasan misa inkulturasi ini tidak lahir tiba-tiba. Sebelumnya, para tokoh komunitas Leragere telah menggelar pertemuan untuk merumuskan arah pelestarian budaya secara lebih sistematis. Dukungan juga datang dari kalangan Gereja, salah satunya Pater Gabriel Maing, OFM, yang melihat potensi besar diaspora Leragere di Jakarta sebagai penggerak pelestarian budaya.
“Jakarta justru bisa menjadi titik awal. Di sini, kesadaran untuk menjaga identitas bisa tumbuh lebih kuat jika digerakkan bersama,” kata Pater Gabriel.
Ketua Ikatan Keluarga Leragere Jakarta (IKLJ), Agus Ola Tukan, menambahkan bahwa momentum ini akan ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Salah satunya adalah mendorong legalitas organisasi agar mampu memayungi berbagai karya budaya, termasuk buku doa dan materi pendidikan berbasis Bahasa Leragere.
Menurut dia, pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus menyentuh generasi muda sejak dini.
“Kalau tidak mulai dari sekarang, bahasa ini bisa hilang pelan-pelan. Pendidikan dini menjadi kunci agar generasi berikut tetap mengenal identitasnya,” ujarnya.
Bahasa Leragere sendiri merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat di Pulau Lembata yang tersebar di wilayah perbukitan dan pesisir. Meski berasal dari wilayah geografis yang berbeda, masyarakat Leragere memiliki kesamaan bahasa dan tradisi yang menjadi identitas kolektif.
Di perantauan seperti Jabodetabek, bahasa ini selama ini lebih banyak hidup dalam ruang keluarga. Misa inkulturasi ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya Bahasa Leragere hadir dalam ruang publik dan liturgi secara formal.
Sejumlah Perwakilan komunitas Leragere Jakarta terus menggagas dukungan kegiatan ini seperti Daniel Boli Kotan, Piter Raring, Damianus Atawolo, Klemens Lera, Martin Uung, dan Charlse Atawolo, menyatakan komitmen untuk terus menghidupkan berbagai inisiatif budaya, tidak hanya dalam bentuk ibadah, tetapi juga melalui karya-karya nyata. Ke depan, IKLJ telah menyiapkan dua agenda utama. Pertama, penyusunan Kamus Bahasa Leragere yang akan mendokumentasikan kosakata, dialek, serta istilah adat dan liturgi. Kedua, penyelenggaraan Misa Akbar Bahasa Leragere pada Oktober 2026 yang dirancang lebih besar dengan melibatkan seni tradisi dan pameran budaya. Langkah ini sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan paroki, lembaga pendidikan, dan komunitas lain di Jakarta yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah.
Di tengah derasnya arus urbanisasi dan modernitas, misa sederhana di sudut Jakarta Timur itu menjadi pengingat: bahasa ibu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk kembali dihidupkan dan hari itu, Bahasa Leragere menemukan suaranya kembali.
3.27K
141