Jumat, 27 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Aries Muhammad dan Reuni Hangat Alumni Melbourne: Saat Kenangan Menyala di Meja Buka Puasa
Inspirasi Keberagaman Indonesia
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 08 Mar 2026 - Views: 63
image empty
Dok.lidahrakyat.com, foto/mlu

LIDAHRAKYAT.COM Sabtu sore di Jakarta menjelma jadi panggung nostalgia. Di Restoran Rempah Wangi, aroma kari dan tawa bersahutan, menari di udara seperti nada-nada lama yang kembali diputar. Di sanalah para alumni Melbourne, sahabat-sahabat yang dulu meniti mimpi di negeri kanguru, kini berkumpul lagi setelah puluhan tahun berpisah oleh waktu dan jarak.

Mereka datang bukan sekadar untuk berbuka, tapi untuk meneguk kembali rasa persaudaraan yang tak lekang dimakan usia. Dondon, Cakra, Benny, Aries Muhammad, Asri Hadi, dan Sabar duduk berjejer seperti bab-bab lama dalam buku kenangan yang kembali dibuka. Di sisi lain, Diana, Hellen, Tessa, Anna, Meniq, dan Sherly menebar senyum, sehangat teh manis yang mengepul di meja. Cerita pun mengalir seperti sungai kenangan. Ada tawa yang pecah saat kisah masa kuliah di Melbourne disinggung — tentang perjuangan menaklukkan tugas, tentang malam-malam panjang di perpustakaan, tentang hujan yang dulu jadi saksi tawa muda mereka. Kini, semua itu terasa seperti mimpi yang kembali hidup di bawah cahaya lampu restoran.

Cakra dan Tessa, pasangan yang dulu berawal dari bangku kuliah, kini datang jauh-jauh dari Rumbai. Mereka terbang ke Jakarta bukan hanya untuk berbuka, tapi untuk menjemput kembali potongan masa lalu yang masih berdenyut di hati.

“Tak ada jarak bagi kenangan,” ujar Tessa sambil tersenyum, dan semua yang hadir seolah mengangguk dalam diam.

Aries Muhammad, yang kini dikenal sebagai sosok hangat dan penuh semangat, menuturkan kepada awak media lidahrakyat.com bahwa pertemuan ini bukan sekadar reuni. “Ini adalah cara kami menjaga persahabatan yang sudah berumur lebih dari tiga dekade,” katanya, matanya berkilat seperti bara kecil yang tak pernah padam.

Sore menjelma malam, adzan magrib berkumandang, dan sendok-sendok mulai berdenting. Di antara suapan dan tawa, terselip rasa syukur yang dalam — bahwa waktu boleh berjalan, rambut boleh memutih, tapi persahabatan tetap berwarna. Ramadhan kali ini menjadi jembatan yang mempertemukan kembali hati-hati yang pernah berjuang bersama di tanah seberang.

Di akhir acara, Helena Lohy — pemilik suara emas yang menjadi penggagas buka puasa kali ini, tak sempat mempersembahkan suaranya yang sering melayang lembut, membungkus malam dengan kehangatan. Semua yang hadir larut dalam suasana, seolah Melbourne kembali hadir di Jakarta malam itu — bukan dalam bentuk gedung atau jalan, tapi dalam tawa, pelukan, dan cerita yang tak pernah usang.

Reuni itu bukan sekadar temu raga, melainkan temu jiwa. Sebuah pengingat bahwa persahabatan sejati tak mengenal batas waktu, tak tunduk pada jarak, dan selalu menemukan jalannya untuk pulang