Senin, 20 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Agustinus Nitbani: Guru yang Tak Viral, Tapi Menggema Hingga Masa Depan
Kisah Guru Daerah Pelosok
Penulis: Remigius Ua
Sorot - 01 Apr 2026 - Views: 74
image empty
Dokumen Kemdikdasemen
Agustinus Nitbani, Guru SDN Fatuteta

LIDAHRAKYAT.COM- Di sudut sederhana Nusa Tenggara Timur, tepatnya di SDN Fatuteta, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, ada sebuah cahaya yang terus menyala tanpa banyak suara. Namanya Agustinus Nitbani—seorang guru yang tidak sekadar mengajar, tetapi menghidupi makna pendidikan itu sendiri.

Bagi sebagian orang, profesi guru mungkin dipandang sebagai pekerjaan rutin: datang, mengajar, pulang. Namun bagi Pak Agustinus, menjadi guru adalah sebuah panggilan jiwa. Ia memilih jalan ini dengan kesadaran penuh, bahwa di balik papan tulis sederhana dan ruang kelas yang mungkin jauh dari kata ideal, tersimpan masa depan anak-anak bangsa.

Hari-harinya di Fatuteta bukanlah tentang fasilitas yang lengkap atau kemudahan akses. Justru sebaliknya—ia berdiri di tengah keterbatasan. Namun di situlah letak kekuatannya. Ia hadir, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penuntun, penyemai harapan, dan penyalur mimpi bagi anak-anak yang mungkin belum pernah membayangkan dunia di luar desa mereka.

Dengan kesabaran yang tak banyak disorot, ia menanamkan nilai-nilai kehidupan: kejujuran, kerja keras, dan keberanian untuk bermimpi. Ia percaya bahwa setiap anak, betapapun sederhana latar belakangnya, memiliki hak yang sama untuk berhasil. Dan keyakinan itulah yang terus ia rawat dalam setiap proses belajar-mengajar.

Perjalanan panjang pengabdian ini kini mendapatkan penguatan melalui tunjangan profesi guru. Namun bagi Pak Agustinus, ini bukan semata soal tambahan penghasilan. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pengakuan—bahwa negara melihat, menghargai, dan mengakui jerih payah guru-guru di pelosok negeri.

Tunjangan tersebut menjadi simbol bahwa dedikasi tidak pernah sia-sia. Bahwa kesetiaan dalam sunyi tetap memiliki makna besar dalam pembangunan bangsa. Dan bahwa guru, di mana pun mereka berada, adalah fondasi utama masa depan Indonesia.

Dalam kerendahan hati, Pak Agustinus menyampaikan rasa syukurnya:

"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kami para guru di daerah. Tunjangan profesi ini bukan hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak bangsa."

Pemerintah Indonesia patut memberikan apresiasi yang tinggi kepada sosok-sosok seperti Pak Agustinus Nitbani. Mereka adalah garda terdepan pendidikan yang bekerja tanpa banyak sorotan, namun dampaknya terasa lintas generasi.

Kisah Pak Agustinus adalah pengingat bagi kita semua: bahwa perubahan besar seringkali lahir dari tempat yang sederhana, dari orang-orang yang bekerja dengan hati, bukan sekadar kewajiban.

Sudah saatnya kita tidak hanya mengagumi, tetapi juga mendukung—baik melalui kebijakan, perhatian, maupun penghargaan nyata terhadap kesejahteraan guru.

Mari kita terus menyuarakan dukungan bagi para pahlawan pendidikan. Bagikan kisah inspiratif ini, agar semakin banyak yang menyadari bahwa di pelosok negeri, ada cahaya-cahaya kecil yang terus menyala demi masa depan Indonesia.

Sumber : Saluran Resmi Kemdikdasemen Republik Indonesia