LIDAHRAKYAT.COM- Kisah ini saya tulis sebagai sebuah Refleksi Atas Perjalanan Imamat Saudara Saya.
Dari Rahim Paroki Kecil Menuju Jalan Panggilan Besar
Ada kisah-kisah yang lahir bukan dari rencana manusia, melainkan dari rahim sejarah yang pelan-pelan membentuk hati seseorang. Kisah kami dimulai dari sebuah paroki kecil yang sederhana: Paroki Santa Maria Mediatrix Omnium Gratiarum – Kiupukan. Dari rahim Gereja inilah pada tahun 2011 empat anak muda melangkah bersama memasuki Seminari Menengah Santa Maria Immaculata-Lalian: Tomy Nainaif, Lius Kofi, Jefri Uskono, dan saya sendiri, Koka Masan.
Empat anak Kiupukan itu membawa mimpi yang sama: ingin mengenal Tuhan lebih dekat, ingin menemukan kedalaman panggilan, ingin melihat apa arti sebuah perjalanan. Namun kami tidak tahu bahwa perjalanan itu akan menempa kami begitu keras, memisahkan kami pelan-pelan, sebelum akhirnya hanya satu jiwa yang tetap bertahan sampai ujung proses.
Jalan Lalian – Tempat Kami Menjadi Saudara
Seminari Lalian bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah pembentukan—tempat di mana iman diuji, karakter diperhalus, dan hati diajak menatap diri dengan kejujuran. Di tempat inilah kami belajar arti taat, arti setia, dan arti menjadi saudara. Tomy, dengan sifat pendiam dan pemalunya, hadir sebagai warna yang khas. Di balik kesunyian sikapnya, ia menyimpan ketekunan yang begitu kuat. Hobinya bermain gitar (basis maupun melodi)—sering menjadi penawar letih setelah hari yang penuh tugas. Pada malam-malam tertentu, petikan gitarnya seperti doa yang tidak diucapkan. Bukan hanya itu saja, Tomy juga suka sekali sepak bolak. Pemain favoritenya ialah Ronaldhino, pemain hebat dari negeri zamba Brazil dengan gaya permainan "jogo binito".
Lama-kelamaan, jumlah kami berkurang. Lius Kofi keluar pada tahun 2013. Jefri Uskono menyusul keluar pada tahun 2014. Kepergian mereka bukanlah kegagalan, sebab panggilan Tuhan memanggil tiap orang pada jalannya masing-masing. Namun bagi kami yang tinggal, kehilangan itu meninggalkan sunyi. Pada akhirnya hanya kami berdua yang bertahan hingga tamat di Seminari Lalian tahun 2015: Tomy dan saya.
Jalan Frater—Dua Arah yang Berbeda
Setelah itu, jalan kami berpisah. Tomy memilih masuk Biara OFM Conv. di Medan, sementara saya masuk di Seminari Tinggi TOR LO'o Damian-Emaus sebagai calon Imam Projo Keuskupan Atambua. Aturan hidup membatasi kami berkomunikasi, sehingga kami seperti berjalan dalam dua dunia yang jauh.
Tahun 2016 saya menyelesaikan TOR (Tahun Orientasi Rohani) dan bersiap memasuki studi Filsafat, sedangkan Tomy masih menjalani formasinya di Medan, sebagai seorang Frater di Biara OFM, Conventual. Namun tahun berikutnya, saya mendengar kabar itu—kabar yang tidak pernah saya bayangkan: Tomy menarik diri dari Biara OFM, Conv. Ada sesuatu yang runtuh di dalam diri saya. Saya merasa kehilangan seorang saudara seperjalanan.
Tetapi ketika liburan tiba dan kami bertemu, saya melihat sesuatu pada dirinya: ketenangan seorang yang telah melewati pergumulan panjang. Saya masih mengenakan jubah putih, ia sudah melepasnya. Namun perjumpaan kami tidak diselimuti jarak. Ia tetap saudara. Ia tetap sahabat. Dan beberapa waktu kemudian, Tomy kembali melamar menjadi calon Imam Projo Keuskupan Atambua. Saya melihat sendiri kegigihan itu—bahwa panggilan Tuhan mungkin berliku, tapi Ia selalu menyediakan jalan pulang bagi mereka yang sungguh mencari.
Persaudaraan di Penfui – Unit Hebron
Ketika kami bertemu kembali di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui-Kupang, saya sudah menjadi kakak tingkat satu tahun di atasnya. Kami ditempatkan di Unit Hebron, saya sebagai Ketua Unit dan Frater Tomy sebagai salah satu anggota unit. Bersama di tempat itu, kami menemukan kembali ritme persaudaraan yang pernah hilang: bukan lagi sebagai empat anak Kiupukan sewaktu di Lalian beberapa tahun yang lalu, tetapi sebagai dua laki-laki dewasa yang mulai memahami betapa beratnya memikul panggilan untuk mengikuti Kristus.
Pada awal bulan Januari di tahun 2019, saya memutuskan untuk menarik diri dari formasi calon Imam. Itu bukan keputusan ringan. Saya ingat tatapan Sahabat Tomy: tenang, memahami, dan jauh dari penilaian. Sebagai sahabat, ia menerima keputusan itu dengan hormat dan doa. Dan di sinilah saya menyadari bahwa panggilan mungkin berbeda, tetapi persaudaraan tidak pernah padam. Saya memang melepaskan jubah putih, tetapi tidak pernah melepaskan persahabatan kami.
Diakonat – Tomy Tetap Melangkah
Waktu terus berjalan. Kami sama-sama menyelesaikan studi Filsafat, lalu Sahabat Frater Tomy Nainaif menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastotal) selama dua tahun di Paroki St. Gerardus Nualian, Dekenat Belu Utara. Setelah selesai menjalani masa sebagi seorang Frater TOP, ia kembali melanjutkan studi Teologi di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui-Kupang selama kurang lebih dua tahun.
Pada tanggal 31 Mei 2025, di tempat yang penuh kenangan itu—Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang— Frater Tomy ditahbiskan menjadi Diakon oleh Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Mendengar kabar itu, saya merasakan sukacita yang sulit dijelaskan. Saya menyaksikan dari jauh bagaimana seorang sahabat lama, dengan semua jatuh-bangunnya, akhirnya tiba pada sebuah tahap penting dalam panggilannya.
Ia kemudian melayani sebagai Diakon di Paroki St. Dominikus Leon As–Wekmidar, Dekenat Malaka, menjalani hari-hari penuh tanggung jawab pastoral. Dan kini, setelah melewati perjalanan panjang itu, tibalah hari yang dahulu hanya menjadi harapan jauh di masa remaja kami.
Jumat, 21 November 2025 – Hari yang Dinantikan
Hari ini, 21 November 2025, sahabatku Diakon Tomy Nainaif, Pr akan menerima Urapan Suci Imamat di Paroki Santa Maria Fatima Betun, oleh YM. Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr (Uskup Atambua)
Dengan motto tahbisannya: “Tuhan, Engkau mengerti pikiranku.” (Mzm 139:2b)
Motto itu seperti cermin perjalanan hidupnya. Tuhan memahami pergumulan Diakon Tomy ketika harus pergi, ketika harus kembali, ketika harus diam, dan ketika harus bangkit. Tuhan mengetahui setiap langkah yang ditempuh, setiap keraguan yang dihadapi, dan setiap keberanian yang dipelajari.
Sahabat, Jadilah Imam Hingga Kekal
Sebagai sahabat, saya bersyukur melihatnya berdiri di ambang pintu panggilan imamat. Saya bangga, bukan karena saya pernah berjalan di jalur yang sama, tetapi karena saya pernah mengenalnya sedekat itu—mengenal jatuhnya, mengenal kuatnya, mengenal hatinya.
Dari satu biara ke biara lain, dari ruang kelas ke kapel, dari malam-malam di Lalian dengan gitar sederhana hingga ke altar imamat yang megah, Sahabatku Diakon Tomy telah bertumbuh menjadi pribadi yang siap memberikan hidupnya bagi Tuhan dan umat-Nya.
Sahabatku, jadilah Imam hingga kekal, menurut tata cara Melkizedek. Jalani hidupmu sebagai persembahan, bukan sekadar tugas. Biarkan hatimu menjadi rumah bagi banyak orang.
Saya tidak lagi memakai jubah putih seperti dulu, tetapi saya berdiri sebagai saksi perjalananmu—dengan rasa bangga, syukur, dan kasih sebagai saudara seperjalanan. Dengan doa tulus dan hati yang penuh harapan, saya menantikan hari esok sebagai hari kemenangan panggilanmu.
Terpujilah Allah yang memulai, memelihara, dan menyempurnakan panggilan ini dalam dirimu, Sahabatku Diakon Tomy Nainaif, Pr.
3.05K
141