LIDAHRAKYAT.COM Di antara deretan buku filsafat dan sapuan kuas yang belum mengering, hari ini ada hening yang tak biasa bagi saya. Sang gembala kata, Prof. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J., telah menyelesaikan ziarah panjangnya. Beliau tidak hanya pulang membawa jubah imamatnya, tetapi juga membawa ribuan bait puisi dan warna-warna yang pernah ia goreskan untuk mempercantik wajah kemanusiaan yang sering saya diskusikan bersamanya.
Ingatan saya melayang kembali ke tahun 1996. Sebagai wartawan di Harian Suara Pembaruan, saya mengenal beliau bukan sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai guru yang sabar. Setiap kali saya meminta beliau menulis artikel opini atau menjadi narasumber, beliau selalu menyambut dengan kejernihan berpikir yang luar biasa. Beliau adalah intelektual yang membumi, yang mampu menerjemahkan rumitnya filsafat menjadi narasi yang bernyawa di bawah pena saya.
Pertemuan-pertemuan di Kantor Kementerian Pendidikan semakin mempertegas kekaguman saya. Namun, yang paling membekas adalah perjumpaan di Stasiun Dukuh Atas beberapa tahun lalu. Di tengah hiruk-pikuk stasiun, beliau dengan ketulusannya mengajak saya membesuk Almarhum Arswendo Atmowiloto di RS Santo Carolus. Di sana, saya melihat sisi lain dari seorang Romo Mudjiâ€â€seorang sahabat yang setia, yang memahami bahwa persahabatan adalah ibadah yang paling nyata.
Satu pesan yang akan selalu saya jaga di dalam batin adalah saat beliau berucap: "Mas Eko, urip iku murup." Sebuah pengingat bahwa hidup itu harus menghidupi, harus menyala, dan menjadi berkat serta manfaat bagi banyak orang. Pesan itu kini menjadi warisan berharga bagi saya untuk terus melanjutkan api yang pernah beliau nyalakan.
Kini, beliau telah menyusul para suhu menulis saya; Mas Arswendo, Tino Saroenggalo, dan Ibu Poppy Donggo dalam sebuah perjamuan abadi di surga. Romo Mudji telah mengajarkan saya bahwa menjadi religius berarti menjadi berbudaya, dan menjadi intelektual berarti tetap memiliki hati yang peka.
Selamat jalan, Romo Profesor. Sugeng tindak menuju keabadian. Terima kasih telah mewarnai kanvas hidup saya dengan kebijakan, kasih, dan nyala api yang takkan pernah padam.
Berita duka ini disampaikan Ketua STF Diyarkara, Jakarta, Pastor Simon Lili Cahyadi malam ini, Minggu, 28/12/2025.
Para romo, bapak dan ibu sekalian, baru saja ada berita duka. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ dipanggil Tuhan malam ini 28 Desember 2025 pukul 20. 43 WIB di RS Carolus Jakarta karena sakit dalam usia 71 tahun. Jenazah akan disemayamkan di Colese Canisius, Menteng, Jakarta Pusat.
Misa Requiem akan diadakan pada tanggal 29 dan 30 Desember 2025 pukul 19.00 di Kapel Kolese Kanisius, Jakarta.
Jenazahnya akan diberangkatkan ke Girisonta pada tanggal 30 Desember 2025 pukul 21.00. Pemakaman akan diadakan pada tanggal 31 Desember 2025, didahului dengan Ekaristi pukul 10.00 di Gereja Paroki lalu dilanjutkan dengan pemakaman di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta.
Berita kematian ini mendadak. Memang sebelumnya saya sudah tahu, bahwa Romo Mudji penderita diabetes. Tapi bahwa kini dia berpulang, amat mengejutkan saya. Beberapa pekan lalu kami bersama baru saja menguji penelitian kandidat doktor di STF. Semoga Tuhan kini memeluk Romo Muji dalam dekapan cinta-Nya yg maha besar, ujar Romo Simon. (Eko B Harsono)
3.05K
141