/1/
SEBELUM DUNIA MENCARI NAMANYA SENDIRI
Puisi: Leni Marlina
Sebelum dunia mencari
namanya sendiri,
puisi telah berjalan lebih dulu—
tak bertubuh,
tak berwaktu,
hanya cahaya tipis
yang menandai bahwa ada sesuatu
di dalam diri manusia
yang tak sanggup dipenjara logika.
Ia tumbuh dalam gelap,
di antara ketakutan pertama
dan keberanian pertama,
ketika napas belum mengerti arti kehilangan
dan tangan belum tahu
bagaimana menggenggam luka.
Puisi adalah suara paling awal
yang memanggil jiwa keluar dari sunyi,
suara yang membuat manusia
mengakui keberadaannya sendiri.
Dan sampai hari ini,
ketika sejarah mulai ditulis mesin
dan ingatan digantikan algoritma,
puisi tetap menjadi pintu
yang hanya bisa dibuka
dengan rasa yang tak bisa dijelaskan.
Masuklah—
karena di balik pintu ini
kita belajar lagi
menjadi manusia
yang bersyukur
pernah diberi hati.
Melbourne, Australia, 2013
/2/
PUISI YANG TUMBUH DI DADA MANUSIA
Puisi: Leni Marlina
Sebelum kata menjadi api,
sebelum bait menjelma darah
di tubuh dunia yang lebam,
puisi telah ada—
sebagai bisikan pertama
di udara yang belum bernama.
Ia tak lahir dari cetak
atau layar,
melainkan dari denting pertama
yang ditinggalkan petir
pada batang pohon purba.
Ia bukan milik penyair,
bukan milik buku,
tapi milik siapa pun
yang pernah merasakan
hati yang tak muat
oleh diam.
Ketika dunia belum menciptakan alfabet,
puisi sudah tumbuh
di dada manusia—
sebagai rasa yang tak bisa disebut,
sebagai cahaya
yang tak bisa dipadamkan.
Maka izinkan kami menulis,
bukan untuk menjawab,
tapi untuk tetap mengingat
bahwa jiwa yang bergetar
adalah bukti:
kita masih manusia.
Melbourne, Australia, 2013
/3/
PUISI MENYALA DALAM KEPALA
Puisi: Leni Marlina
Di negeri yang kata-kata dibakar
dalam tungku propaganda,
puisi menyelinap
seperti angin kering di sela jeruji—
ia tak membawa senjata,
hanya luka
yang ditulis dengan darah pelan.
Ia bukan pidato,
bukan dokumen negara,
tapi nyala kecil
yang hidup dalam dada
seorang anak
yang masih percaya
bahwa keadilan
bisa disisipkan dalam sajak.
Mereka ingin membunuhnya,
tapi puisi tidak punya tubuh.
Ia hanya gema
yang kembali
setiap kali peluru dilepaskan.
Dan malam mana pun
yang tak punya listrik,
puisi tetap menyala
dalam kepala mereka
yang menolak lupa.
Melbourne, Australia, 2013
/4/
PUISI YANG MENYEMBUHKAN
Puisi: Leni Marlina
Puisi adalah tubuh
yang ditinggal zaman,
tapi tidak membusuk.
Ia duduk di pojok waktu,
dengan mata setenang abu,
dan napas selembut serat daun gugur.
Ia tidak dipanggil
dalam konferensi digital,
tidak ditaruh
di daftar trending.
Tapi mereka yang pernah mencium nadinya
akan kembali,
seperti burung yang rindu
pada angin yang tidak berbahasa.
Puisi tak pernah memaksa dicintai,
tapi ia menyembuhkan
mereka yang diam-diam
telah pecah
di dalam diri sendiri.
Maka jika kau temukan
sebaris kata
yang membuatmu terdiam lebih dari satu menit,
ketahuilah—
itulah tubuh sunyi
yang sedang memelukmu.
Melbourne, Australia, 2025
/5/
PUISI, NAFAS DARI JIWA YANG TAK PERNAH MENYERAH
Puisi: Leni Marlina
Ketika menara-menara jatuh,
dan dunia menulis sejarahnya
dengan sidik jari mesin,
puisi tetap tinggal
di antara puing dan debu,
sebagai napas terakhir
yang ditinggalkan peradaban.
Ia tak bisa dijual,
tak bisa diwariskan melalui algoritma,
tapi hidup—
di lempung tangan pengrajin,
di dinding gua yang tak sempat dihapus waktu,
di kertas-kertas tua
yang diselamatkan dari genangan perang.
Puisi adalah saksi
yang tak bisa disogok.
Ia menyimpan
nama-nama yang dihilangkan,
tangis yang tak pernah direkam,
dan cinta
yang ditulis terlalu pelan untuk didengar zaman.
Ketika segalanya usang,
dan manusia mencari makna
dari reruntuhan ingatan,
puisi akan berdiri—
bukan sebagai jawaban,
tapi sebagai napas
yang masih hangat
dari jiwa yang tidak menyerah.
Melbourne, Australia, 2013
/6/
BAIT-BAIT YANG TERSISA DI UDARA
Puisi: Leni Marlina
Setelah segalanya dibisukan,
dan lidah-lidah kehilangan arah,
puisi akan tetap bernafas
dalam tubuh malam
yang diam-diam menunggu pagi.
Ia akan menjelma
setetes embun
di kaca jendela dunia
yang mulai berdebu—
diam, kecil,
namun cukup
untuk mengingatkan langit
tentang air mata.
Jangan kau kira puisi selesai
ketika halaman terakhir dilipat,
atau ketika suara pembacaan
diredam mikrofon.
Tidak.
Ia terus hidup
di garis tangan
anak-anak yang belum tahu arti kehilangan,
di gurat wajah
orang-orang tua yang menanti kabar
dari tanah yang dirampas waktu.
Jika suatu hari
tak ada lagi bahasa yang bisa dipercaya,
dan sejarah ditulis oleh mesin,
maka dengarkanlah
bait-bait yang tersisa di udara.
Itulah puisi.
Itulah kita.
Itulah nyawa
yang belum menyerah.
Melbourne, Australia, 2013
/7/
KETIKA WAKTU MELIPAT HALAMAN YAG TERSISA
Puisi: Leni Marlina
Setelah kata terakhir padam,
setelah buku ditutup
dan waktu melipat halaman yang tersisa,
puisi tidak selesai.
Ia hanya bergeser
ke ruang yang tak bisa disentuh
oleh suara,
oleh sejarah,
atau oleh ketakutan.
Ia tinggal sebagai denyut kecil
di dasar jiwa—
tempat manusia menyembunyikan
doa yang tak sempat diucap
dan luka yang tak sempat diberi nama.
Jika suatu hari
bahasa berhenti dipercaya
dan dunia kembali mencari
siapa dirinya,
puisi akan muncul
seperti embun yang kembali
meski malam tak meminta.
Ia akan berdiri di tengah gelap,
menjadi bukti
bahwa keheningan pun dapat bernapas,
dan bahwa manusia
tak pernah benar-benar hilang
selama masih menyisakan satu getaran
yang ingin dicatat oleh cahaya.
Maka biarkan bait terakhir ini
menjadi pintu yang tidak menutup—
tempat kita pulang
ketika segala yang lain
meninggalkan.
Untuk selama-lamanya,
puisi adalah nyawa
yang memilih bertahan.
Melbourne, Australia, 2013
-------------
Tentang Penulis
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi "The Beloved Teachers" (2025), L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
3.05K
141