(Guratan Isi hati Kami Keluarga Besar Leragere Jakarta Raya mengenang berpulangnya Yoseph Retu Kotan)
Di antara deru mesin dan debu jalanan Jakarta, ada satu suara yang dulu begitu akrab di telinga. Raungan motor King yang gagah, menandai kedatangan seorang pria murah senyum bernama Yoseph Retu Kotan. Suaranya bukan sekadar bunyi mesin, melainkan denting semangat, tanda bahwa sosok pekerja keras itu tengah melintas, membawa tawa, cerita, dan ketulusan yang tak pernah lekang.
Yoseph, atau “Nyong” sebagaimana para sahabat memanggilnya, adalah potret sederhana dari keteguhan hati. Ia datang dari jauh, dari tanah Leragere, membawa semangat rantauan yang tak pernah padam. Di Jakarta, ia bukan sekadar perantau, ia adalah keluarga bagi siapa pun yang mengenalnya. Di setiap perjumpaan, senyumnya menjadi jembatan, tutur katanya menjadi pengingat, dan kehadirannya menjadi peneduh di tengah kerasnya kehidupan ibu kota.
Motor King-nya adalah saksi bisu perjuangan. Di atas pelana itu, Yoseph menempuh jalan panjang: dari kampus Universitas Bung Karno hingga lorong-lorong perjuangan hukum di Universitas Krisdwipayana. Ia bukan hanya aktivis, tapi juga penggerak nurani. Dalam setiap langkahnya, ada niat tulus untuk membantu, bahkan ketika dirinya sendiri tengah berjuang melawan sakit yang tak kunjung reda.
Dua belas tahun lamanya ia bergulat dengan rasa sakit. Dua belas tahun diisi dengan diam yang penuh makna. Dalam diam itu, Yoseph berpikir, merancang, dan tetap berusaha agar esok masih ada harapan. Ia tak pernah menyerah, meski tubuhnya perlahan melemah. Seperti lilin yang terus menyala meski meleleh, ia tetap memberi terang bagi sekitarnya.
Bagi keluarga besar Leragere di Jakarta, Yoseph bukan sekadar saudara. Ia adalah penjaga semangat, pengingat bahwa hidup adalah perjuangan yang dijalani bersama. (SAGA WOI NAWA DIE-DIE.......) “Jaga diri baik-baik, bila ada masalah di lapangan segera hubungi, jangan jalani sendiri,” begitu pesannya. Kalimat sederhana yang kini menjadi gema di hati mereka yang ditinggalkan.
Pada Sabtu, 28 Maret 2025, jam 14.08 WIB, di RSUD Budhi Asih, Cawang, Jakarta Timur, suara motor King itu berhenti untuk selamanya. Senyum Yoseph tak pernah benar-benar padam. Ia berpulang dengan tenang, meninggalkan jejak kebaikan yang tak terhapus waktu. Jenazahnya disemayamkan di Warakas, Jakarta Utara, sebelum akhirnya diterbangkan pulang ke Kupang, kembali ke tanah yang melahirkannya, diiringi doa dan air mata keluarga Besar Leragere Jakarta.
Selamat jalan, Ama Yoseph. Jalanmu mungkin telah usai di dunia, tapi kisahmu tetap hidup di setiap deru motor, di setiap tawa rantauan keluarga besar Leragere Jakarta Raya, dan di setiap hati yang pernah kau sentuh. Engkau telah menuntaskan perjalanan panjangmu dengan senyum yang tak pernah pudar.
3.21K
141