Sabtu, 14 Mar 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Mujahadah Kubro: Simfoni Spiritualitas Menyambut HarLah 1 Abad Nahdlatul Ulama, Kota Malang, Jawa Timur
Inspirasi Indonesia Maju
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Peristiwa - 08 Feb 2026 - Views: 116
image empty
Flyer Publikasi Tim Creative, lidahrakyat.com

LIDAHRAKYAT.COM Kota Malang bersiap menjadi samudra cahaya. Di bawah langit Februari yang teduh, gema takbir dan sholawat akan berpadu dalam satu irama kebangkitan: Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama. Sebuah peristiwa yang bukan sekadar perayaan, melainkan penanda perjalanan panjang peradaban Islam Nusantara yang berakar kuat di bumi, namun menjulang tinggi ke langit.

Stadion Gajayana, yang biasanya menjadi panggung olahraga, akan menjelma menjadi taman dzikir. Ribuan jamaah, laksana ombak putih yang datang dari segala penjuru, akan mengalir menuju satu titik: tempat di mana doa, sejarah, dan harapan bertemu. Di sana, setiap langkah kaki bukan sekadar gerak tubuh, melainkan langkah spiritual menuju abad baru Nahdlatul Ulama — abad pengabdian, ilmu, dan kemanusiaan.

Prof. Maskuri Bakri, sang nakhoda panitia, menyiapkan segalanya dengan penuh kesungguhan. Ia tahu, acara ini bukan hanya milik panitia, tapi milik sejarah. Dari apel dua ribu Banser yang gagah berdiri menjaga marwah, hingga khatmil Quran 999 kali yang akan menggema di tengah malam, semuanya adalah simbol kesetiaan umat kepada nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama.

Malam itu, Madinah kecil akan lahir di Malang. Mujahadah, istigasah, dan tahajud berjamaah akan menjadi jembatan antara bumi dan langit. Doa-doa akan naik seperti asap dupa yang harum, membawa pesan cinta dari umat kepada Sang Pencipta. Dan ketika fajar menyingsing, selawat akan menggema, menandai lahirnya semangat baru di abad kedua NU — semangat yang menolak padam meski zaman terus berganti rupa.

Tak hanya para kiai dan santri, para pemimpin negeri pun akan hadir. Dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, bahkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto akan berdiri di mimbar yang sama — menandai bahwa NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan rumah besar kebangsaan. Dan di luar stadion, jalan-jalan Kota Malang akan menjadi saksi. Dua belas ruas jalan dialihkan, bukan karena kemacetan, tapi karena cinta yang tumpah ruah. Cinta kepada ulama, cinta kepada bangsa, cinta kepada Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mujahadah Kubro ini bukan sekadar acara. Ia adalah doa yang menjelma menjadi gerak, sejarah yang hidup kembali dalam denyut zaman. Dari Malang, cahaya itu akan menyala — menerangi abad kedua Nahdlatul Ulama, agar tetap menjadi pelita bagi umat dan bangsa. (Dewi Farah)