LIDAHRAKYAT.COM Pernahkah KTGers mendengar celetukan “Dunyane Mardiyah” yang kerap terlontar dalam percakapan masyarakat Tegal dan Brebes ? Bagi generasi tua, ungkapan ini bukan sekadar gurauan, melainkan simbol kemewahan yang pernah benar-benar hadir dalam kehidupan nyata. Ia merujuk pada sosok Hj. Mardiyah, seorang perempuan luar biasa dari Desa Bandasari Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal yang pada masanya dikenal sebagai wanita terkaya di Tegal.
Lahir sekitar tahun 1908, Hj. Mardiyah adalah potret nyata perempuan tangguh yang mampu memegang kendali ekonomi di era ketika ruang gerak perempuan masih sangat terbatas. Bertubuh mungil, berkulit sawo matang, dan berpenampilan bersahaja, kehadirannya justru selalu mencuri perhatian. Ke mana pun ia melangkah, perhiasan emas melekat di tubuhnya—kalung, gelang, cincin—bukan semata sebagai penanda kekayaan, tetapi seolah menjadi identitas yang tak terpisahkan dari dirinya. Ia dikenal dermawan dan terbuka. Rumah besarnya di Desa Bandasari nyaris tak pernah sepi. Pintu selalu terbuka bagi siapa saja, bahkan pada era 1970-an kerap menjadi tempat singgah para artis ibu kota yang sedang melakukan show di Tegal dan sekitarnya.
Kekayaan Hj. Mardiyah kala itu memang sulit dicari tandingannya: aset hotel yang kabarnya mencapai Tanah Suci Makkah, kapal khusus pemberangkatan jemaah haji, hingga deretan toko emas dan properti strategis di pusat keramaian. Namun, sebagaimana roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar, kejayaan itu perlahan diuji. Masa senja hidupnya justru diwarnai luka batin yang dalam. Putra laki-laki satu-satunya terjerumus dalam gaya hidup boros, sementara rumah tangganya retak ketika sang suami, Sidiq, memilih menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Fatma. Peristiwa ini meninggalkan trauma emosional yang mendalam hingga Hj. Mardiyah sempat menjauh dari saudara-saudaranya sendiri.
Seiring waktu, kekayaan yang dahulu menggunung mulai terkikis oleh keadaan dan konflik internal. Hingga akhirnya, Hj. Mardiyah jatuh sakit dan wafat. Ia dimakamkan dengan tenang di Pemakaman Kemasanijo, tak jauh dari rumah yang dulu menjadi saksi bisu kemegahan hidupnya. Kini, rumah besar di Bandasari itu telah berpindah tangan dan menjadi milik H. Waluyo, sementara salah satu aset ikoniknya, Rumah besar yang berada di sebelah selatan bioskop Pagongan, Saat ini telah terbagi bagi menjadi beberapa bagian dengan pemilik yang berbeda beda.
Salah satunya adalah bangunan yang bertransformasi menjadi Toko Emas Sinar Cantik kemudian saat ini Toko Emas Kresno di depan Pasar Pagongan. Meski sang saudagar telah lama tiada, jejaknya belum sepenuhnya hilang. Beberapa peninggalan paling berharga, seperti cincin berlian Elizabeth dan gelang emas naga bertabur berlian, diyakini masih tersimpan rapi di tangan cicit salah satu adiknya. Perhiasan legendaris ini hingga kini tetap menjadi buruan kolektor, seolah menjaga nyala kisah kejayaan Hj. Mardiyah agar tak pernah padam.
Sebuah kisah tentang kekayaan, kedermawanan, luka batin, dan takdir—yang terus hidup dari generasi ke generasi sehingga menjadi idiom yang terus bertahan hingga beratus ratus tahun setelah kematiannya, Coba absen ana sing tau disempad manene gara gara njaluk duit jajan karo ngromed...
"DUNYANE MARDIYAH !!!"
Wallāhu a‘lam.
*Penulis adalah Abi Cipto Lakban, Dalang Wayang Santri "SINAU BUDAYA"
3.05K
141