Senin, 20 Apr 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Ketika Langit Menangis di Ranah Minang
Inspirasi Literasi Indonesia
Penulis: Meja Redaksi Lidah Rakyat
Sorot - 09 Apr 2026 - Views: 49
image empty
Ilustrasi lidahrakyat.com

Langit Sumatera Barat akhir-akhir ini seperti sedang murung. Ia menangis deras, menumpahkan air matanya ke lembah dan bukit, seolah ingin menegur manusia yang terlalu sibuk membangun tanpa menengok bumi yang mulai sesak. Hujan bukan lagi sekadar hujan, ia datang membawa amarah, menggulung jalan, menumbangkan pohon, dan menyeret rumah-rumah yang berdiri di tepi sungai.

Setiap kali Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini, masyarakat seperti sudah hafal alurnya: hujan lebat, angin kencang, lalu banjir bandang. Seolah alam memainkan kaset lama yang tak pernah diganti. Tapi di balik semua itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara: apakah ini murni murka alam, ataukah hasil dari tangan manusia yang terlalu serakah menebang, menggali, dan menutup tanah dengan beton?

Para ilmuwan sudah lama berteriak lewat laporan dan data. Mereka bilang, perubahan iklim global membuat hujan ekstrem makin sering mampir. Tapi hujan, sekeras apa pun, tak akan jadi bencana kalau hutan masih berdiri tegak dan sungai masih punya ruang untuk bernafas. Sayangnya, di banyak tempat, pepohonan sudah tumbang, tanah resapan berubah jadi perumahan, dan daerah aliran sungai disulap jadi lahan tambang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat, tekanan terhadap hutan masih terus terjadi. Di Sumatera Barat, kawasan hulu yang dulu hijau kini mulai botak. Tak heran, setiap kali langit menumpahkan airnya, bumi tak lagi mampu menampung. Air pun mencari jalan sendiri, menyapu apa saja yang dilewatinya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, banjir dan longsor kini jadi tamu langganan di negeri ini. Tapi anehnya, setiap kali bencana datang, kita masih sibuk menambal luka tanpa menyentuh akar masalahnya. Pemerintah bergegas membangun jembatan darurat, menyalurkan bantuan, lalu... lupa. Hingga musim hujan berikutnya datang membawa cerita yang sama.

Bencana ini ibarat gunung es. Yang tampak di permukaan hanyalah air bah dan lumpur, sementara di bawahnya tersembunyi masalah yang lebih dalam: tata ruang yang semrawut, pengawasan yang lemah, dan kebijakan yang sering kali tak berpihak pada alam. Sudah saatnya pemerintah menatap cermin dan bertanya: pembangunan macam apa yang sedang kita kejar? Audit lingkungan, pengawasan ketat, dan penegakan hukum bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Namun, tanggung jawab menjaga bumi tak bisa diserahkan sepenuhnya pada pemerintah.

Generasi muda, mereka yang tumbuh di tengah badai informasi dan perubahan iklim punya peran besar. Mereka bukan hanya korban masa depan, tapi juga harapan baru. Jika mereka mau bergerak, menanam, mengedukasi, dan bersuara, mungkin suatu hari nanti langit Sumatera Barat bisa tersenyum lagi, menurunkan hujan yang menyejukkan, bukan yang menenggelamkan