Sosok paling mendasar bagi kecerdasan dan kepandaian manusia adalah guru yang berkualitas—berkualitas dari sisi kepribadian, dan bermutu dalam ilmu yang ia ajarkan kepada siswanya. Jika disadari, seorang guru tidak hanya hadir untuk mengajar siswanya secara akademik, tetapi juga harus belajar dari siswanya. Oh, iya? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab, karena telah menjadi prinsip paling dasar dalam dunia pendidikan: guru harus belajar dari siswanya. Sebelum mengobservasi aspek akademik, seorang guru perlu memahami kondisi psikologis setiap murid. Sebab setiap anak memiliki watak, karakter, dan latar pengalaman yang berbeda. Karena itu, sebelum ia mengajar, tugas terpenting adalah memahami karakter murid-muridnya terlebih dahulu.
Saat berdiri di depan kelas, sebaiknya guru telah lebih dahulu “belajar” tentang ragam karakter muridnya. Pemahaman ini membangun koneksi yang memungkinkan pengetahuan tersampaikan secara lebih efektif. Dan mengobservasi dunia belajar-mengajar seperti inilah yang dilakukan oleh penyair Leni Marlina.
Dalam buku antologi puisi tunggal bilingual bertajuk The Beloved Teachers (Guru-guru Tercinta), Leni Marlina menyajikan 37 puisi pilihan tentang guru dari sudut pandang psikologis. Kemampuannya dalam berbahasa Inggris tampak dalam cara ia membingkai kekuatan latar belakang dan kaidah mendidik siswa yang dimiliki para guru berkualitas. Dalam konteks guru yang mengajar sembari belajar, kecintaan dan penghargaan tumbuh dari kedua arah. Terlebih ketika sang guru mendidik dengan bahasa yang santun, penuh penghargaan pada perasaan, dan kuat dalam keteladanan. Secara psikologis, cara ini melahirkan prestasi—bagi siswa maupun gurunya sendiri.
Salah satu puisi berjudul “Guru yang Dicinta dan Dirindu” (hlm. 21) menjadi contoh bagaimana penyair membangun gambaran kasih sayang melalui metafora yang lembut namun kuat. Larik-larik berikut menyajikan renungan yang menyentuh:
/1/
Guru, engkau hadir dalam setiap kenangan //
Di antara baris kata yang kau titipkan di papan //
Suaramu masih bergema dalam ingatan //
Meski waktu berlalu, jarak memisahkan...
Engkau yang kami cintai dengan setulus hati //
Bukan karena ilmu yang kau beri //
Tapi karena ketulusan yang tak pernah kau sembunyikan //
Dalam setiap senyum dan nasihat yang kau sisipkan.
… dan seterusnya.
Penyair membangun ritme metaforis yang merefleksikan bagaimana cinta dan kasih sayang guru menjadi fondasi terciptanya kedalaman rasa. Sejalan dengan pemikiran E. E. Cummings, guru adalah sosok yang menentukan arah kehidupan manusia—karena ia memberikan ilmunya secara tulus tanpa menyimpan apa pun.
Dalam puisi “Mata Pena Para Guru” (hlm. 25), Leni kembali mengangkat simbol keteguhan guru:
Wahai guruku yang sedang menulis di sana //
Di ujung pena yang engkau genggam erat //
Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman...
Larik “Di ujung pena yang engkau genggam erat” menunjukkan tekad kokoh guru dalam mencerdaskan murid. Sementara “Engkau ukirkan huruf-huruf yang melampaui zaman” merupakan metafora bagi keberhasilan siswa yang kelak melintasi batas ruang dan waktu.
Namun demikian, tidak ada karya yang sepenuhnya sempurna. Dalam puisi “Mata Pena Para Guru”, terdapat satu kesalahan kecil pada diksi “menghantarkan” yang seharusnya “mengantar”. Kekeliruan minor ini tidak mengurangi keseluruhan nilai karya.
Antologi bilingual ini sangat layak dibaca generasi muda. Selain mengungkap nilai-nilai edukasi, ia menjadi ruang renungan tentang olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah budi dalam proses belajar-mengajar.
---
Tentang Penulis
*Anto Narasoma — wartawan senior & penyair Indonesia (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Lampung, KEAI, dan komunitas sastra nasional)
Anto Narasoma adalah seorang penyair nasional sekaligus jurnalis senior yang telah lama berkiprah dalam dunia bahasa dan sastra. Karya-karyanya hadir secara tenang namun konsisten memperkaya lanskap sastra Indonesia. Suaranya dibentuk oleh pengalaman, ketulusan, dan kedalaman renungan, menjadikan puisi-puisinya menyentuh tema-tema cinta, kerinduan, iman, serta kompleksitas hubungan manusia.
Gaya penulisannya sering memantulkan spiritualitas yang lembut dan kritik sosial yang halus—ditulis bukan untuk mengesankan, tetapi untuk menyentuh hati.
Sebagai mentor senior di Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia), ia mendampingi para penulis muda dengan ketulusan dan rendah hati. Ia percaya bahwa puisi adalah jembatan menuju penyembuhan, kesadaran, dan kemanusiaan bersama.
Anto juga merupakan anggota Poetry-Pen International Community (PPIC), di mana ia berpartisipasi dalam percakapan lintas budaya yang merayakan keberagaman puisi. Walau tidak mencari sorotan, karya-karyanya telah melintasi batas negara secara perlahan namun pasti.
Pada tahun 2022, ia menerima Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol—pengakuan yang ia terima sebagai amanah untuk terus berkarya, bukan sebagai kemenangan pribadi.
Dengan kerendahan hati dan komitmen yang teguh, Anto Narasoma terus menapaki jalan puisi, percaya bahwa bahkan kata-kata paling lembut pun dapat membawa kebenaran, dan bahkan puisi paling sunyi pun mampu membuka hati sebuah bangsa
3.05K
141