Kamis, 15 Jan 2026
LidahRakyat | Aspirasi, Berani dan Aksi
Gelar, Slogan, dan Kenyataan
Puisi Hari Guru Nasional
Penulis: Remigius Ua
Style - 24 Nov 2025 - Views: 261
image empty
Dokumentasi Pribdi
Remigius Ua

Hari Guru tiba lagi—

spanduk dinaikkan, baliho dibentangkan,

dan kata-kata manis ditebar

seperti angin yang hanya lewat sebentar:

“Pahlawan tanpa tanda jasa!”

“Obor masa depan bangsa!”

“Benteng terakhir peradaban!”

 

Indah di telinga, tapi tak pernah mampir ke kenyataan.

 

Saya ingin bangga,

tapi dompet saya lebih cepat menolak pujian

daripada menerima gaji bulanan.

 

Sebab di balik slogan megah itu,

guru masih berjuang mengejar jam mengajar,

bukan demi murid,

tapi demi memastikan tunjangan tidak lenyap

seperti janji yang tak pernah ditepati.

 

Guru masih harus berhitung—

bukan hanya soal matematika untuk murid,

tetapi menghitung hari,

menghitung kekurangan,

menghitung apakah bulan ini

laporan sudah lengkap

agar tak dipanggil lagi ke kantor dinas.

 

Dan yang paling ironis,

guru diminta membentuk karakter,

tapi ketika disiplin ditegakkan,

guru yang dipanggil polisi.

Diadili bukan karena salah,

melainkan karena terlalu peduli

pada anak bangsa yang belum mengerti arti batas.

 

Lalu datanglah Hari Guru—

panggung berdiri, ucapan disiapkan,

dan kita kembali diberi pidato

tentang keagungan profesi ini.

Padahal yang dibutuhkan guru

bukan pujian panjang,

melainkan kebijakan pendek yang masuk akal.

 

Gelar boleh diberikan,

sebutan boleh ditambahkan,

tapi tanpa aksi nyata,

semua itu hanya catatan manis

yang menguap sebelum kalender berganti.

 

Namun guru tetap ada—

di kota, di desa, di pegunungan,

dan di tapal batas negeri seperti saya.

Mengajar tanpa keramaian,

mendidik tanpa sorotan,

bertahan dengan hati,

meski negara kadang lupa

bahwa masa depan itu

sedang duduk di bangku kelas kami.

 

Karya: Remigius Ua — Guru Tapal Batas RI–RDTL

Tags
Tidak tersedia.