Hari Guru tiba lagi—
spanduk dinaikkan, baliho dibentangkan,
dan kata-kata manis ditebar
seperti angin yang hanya lewat sebentar:
“Pahlawan tanpa tanda jasa!”
“Obor masa depan bangsa!”
“Benteng terakhir peradaban!”
Indah di telinga, tapi tak pernah mampir ke kenyataan.
Saya ingin bangga,
tapi dompet saya lebih cepat menolak pujian
daripada menerima gaji bulanan.
Sebab di balik slogan megah itu,
guru masih berjuang mengejar jam mengajar,
bukan demi murid,
tapi demi memastikan tunjangan tidak lenyap
seperti janji yang tak pernah ditepati.
Guru masih harus berhitung—
bukan hanya soal matematika untuk murid,
tetapi menghitung hari,
menghitung kekurangan,
menghitung apakah bulan ini
laporan sudah lengkap
agar tak dipanggil lagi ke kantor dinas.
Dan yang paling ironis,
guru diminta membentuk karakter,
tapi ketika disiplin ditegakkan,
guru yang dipanggil polisi.
Diadili bukan karena salah,
melainkan karena terlalu peduli
pada anak bangsa yang belum mengerti arti batas.
Lalu datanglah Hari Guru—
panggung berdiri, ucapan disiapkan,
dan kita kembali diberi pidato
tentang keagungan profesi ini.
Padahal yang dibutuhkan guru
bukan pujian panjang,
melainkan kebijakan pendek yang masuk akal.
Gelar boleh diberikan,
sebutan boleh ditambahkan,
tapi tanpa aksi nyata,
semua itu hanya catatan manis
yang menguap sebelum kalender berganti.
Namun guru tetap ada—
di kota, di desa, di pegunungan,
dan di tapal batas negeri seperti saya.
Mengajar tanpa keramaian,
mendidik tanpa sorotan,
bertahan dengan hati,
meski negara kadang lupa
bahwa masa depan itu
sedang duduk di bangku kelas kami.
Karya: Remigius Ua — Guru Tapal Batas RI–RDTL
3.05K
141